Daerah

Jarinya Teriris Pisau, Nenek Situn Terkejut Rumahnya Dibongkar Aparat

Penulis: Redaksi Presisi

Nenek Situn saat duduk diatas tumpukan barang rumahnya yang dibongkar.

Samarinda, Presisi.co - Di tengah teriknya matahari menghujam Kota Tepian, seorang nenek usia 75 tahun, duduk termenung di atas tumpukan barang di badan jalan menuju arah Pasar Segiri.

Pagi itu, Situn masih beraktivitas seperti biasa. Menjual bawang di pasar terbesar di Kota Tepian, yang jaraknya hanya sejengkal dari rumah yang ia diami selama 60 tahun terakhir.

Pagi yang biasa bagi ibu empat orang anak ini, dikejutkan dengan puluhan aparat dari  Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang tiba-tiba datang, membongkar satu per satu dinding kayu rumahnya.

Hari ini, Selasa, 7 Juli 2020 Pemerintah Kota Samarinda memang menunjukkan keseriusannya untuk membongkar ratusan bangunan warga yang berdiri puluhan tahun di Bantaran Sungai Karang Mumus (SKM)

"Saya enggak tahu, nenek lagi ngupas bawang. Namanya untuk makan hari-hari," kata Situn, saat ditemui awak media tepat dihadapan rumahnya yang berbatasan langsung dengan trotoar jalan.

Situn yang terkejut bahkan mengaku jarinya sempat teriris pisau, ketika ia tengah mengupas bawang untuk dijual.

"Jari nenek sampai teriris pisau karena kaget," akunya.

Sementara, didalam rumah ukuran 4x3 meter yang mereka diami, cucunya yakni Sari (23) terbangun dari tidur nyenyaknyam. Lantaran terkejut, Sari meraih tangan Mbahnya dan bergegas lari ke luar rumah bersama Situn.

     
  Berita Terkait :  
   
   
     


Situn yang pasrah, mengaku terpukul. Matanya berkaca-kaca menahan kecewa yang belum bisa ia terima.

"Bongkar paksa ini, aku enggak tahu. Aku di rumah," sebut Situn, yang saat itu mengaku tak mengetahui ihwal pembongkaran ini.

Setelah petugas Satpol PP menjelaskan barulah Situn memahami alasan rumah yang ia diami bersama cucunya ini di bongkar.

Berpuluh tahun mendiami rumah tersebut, kini Situn yang terpisah jauh dari anaknya ini bingung harus membaringkan tubuh tuanya dimana lagi. 

"Masa sama nenek tega. Seharusnya di siapkan rumah, kasih uang untuk makan.
Gitu aja sudah, kita ini enggak banyak omong," harap Situn.

Menyikapi keluhan yang disampaikan Situn, Kepala Satpol PP Samarinda Muhammad Darham pun angkat bicara. Ia memastikan jika pembongkaran ini dilaksanakan sesuai prosedur yang berlaku.

Pun begitu dengan sosialisasi yang diakui Darham telah dilakukan jauh hari sebelum hari ini. Meski ada saja warga di RT 28 Kelurahan Sidodadi, Kecamatan Samarinda Ulu ini yang tak hadir, karena sibuk berdagang.

“Seharusnya sudah dapat informasi, rumah yang kami bongkar ini masuk RT 28, jumlahnya keseluruhan 210 bangunan,” pungkasnya.

pembongkaran-rumah-warga-skmsamarinda

Baca Juga