Politik

Ini Alasan Ibrahim Ahmad Soal Reposisi Anggaran Pendidikan di Kabupaten Paser

Penulis: Redaksi Presisi

Ibrahim Ahmad

Paser, Presisi.co – Pandemi Covid-19 merubah wajah pendidikan bangsa. Ruang-ruang belajar yang semula diramaikan dengan interaksi antara murid dan pengajar, mendadak bungkam dihantam oleh kasus pandemi.

Meski demikian, upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa ini tak menyerah begitu saja, meski bahaya corona terus membayangi. Ruang tatap muka pendidikan berganti wajah, beralih ke daring atau online.

“Ini kan karena musibah Covid-19, jangan dianggap ini sebagai darurat pendidikan. Larinya ya media (teknologi). Tidak semua di Paser ini terjangkau dengan internet,” ungkap Ibrahim Ahmad. Bakal calon pemimpin di bumi Daya Taka.

Mantan pegawai perbankan yang karib disapa Bram ini tak menampik, jika ada sejumlah daerah di Paser yang dapat disebut sebagai kawasan fakir internet. Lazimnya disebut blank spot area.

“Ya prihatin, ini kan kendala yang harus segera diatasi. Daerah di Random, Tanjung Harapan itu contohnya,” sebut Bram, dari balik teleponnya, Selasa (7/7/2020).

Dengan kondisi seperti ini, mau tak mau kegiatan belajar mengajar secara daring di Paser tetap berjalan, apa adanya. Ini, lanjut dikatakan Bram sesuai dengan kebijakan pemerintah  yang dimana selama Covid-19 ini, seluruh aktivitas baik kerja, belajar dan ibadah semuanya berlangsung di rumah.

     
  Berita Terkait :  
   
     

Di sisi lain, Bram menyebut pernah menerima aspirasi langsung dari salah seorang guru yang bertugas di kawasan pedalaman Paser. Selain wilayah tersebut tak terjangkau oleh internet, jarak antar rumah para siswa dan sekolah pun saling berjauhan.

“Sedangkan, di satu sisi harus mengikuti protokol kesehatan. Tinggal bagaimana menyikapinya aja lagi. Terpenting, proses belajar mengajar tetap berjalan sesuai dengan kurikulum,” kata Bram.

Bahkan, lanjut Bram selama kegiatan belajar dari rumah ini berlangsung. Peran pendidikan, tak hanya menjadi tanggung jawab para guru. Di rumah, orang tua pun bertindak layaknya para pengajar yang mengontrol keberlangsung proses belajar anaknya.

Meski begitu, Bram tak menampik jika perkembangan teknologi saat ini sangat menunjang layanan pendidikan, terutama di masa pandemi yang belum dapat dipredeksi kapan berakhirnya.

“Tidak semua harus dengan teknologi seperti ini. Transfer ilmu dari guru ke murid harusnya secara tatap muka. Tapi tetap, social distancing, physical distancing juga harus tetap di perhatikan,” imbuhnya.

Belajar dari Covid-19, Reposisi Anggaran Pendidikan Wajib Dilaksanakan.


Foto : Ibrahim Ahmad (kemeja coklat) saat hadir ditengah warga

Belajar dari Covid-19, Bram menyebut hadirnya pandemi yang berlangsung secara global ini hendaknya jadi peringatan bagi pemerintah, khususnya Kabupaten Paser untuk kembali menata pemanfaatan anggaran bagi majunya pendidikan di Paser.

“Terus terang aja, kita ingin agar stimulus pendidikan baik untuk guru  dan pendidikan gratis seperti yang selama ini disuarakan oleh masyarakat itu dapat terealisasi,” kata Bram.

Apalagi, saat pandemi Covid-19 ini. Diakui Bram, tak sedikit aspirasi warga yang datang menghampirinya. Sulitnya ekonomi warga, memancing kekhawtiran terkait masa depan pendidikan anak-anak mereka.

“Banyak pendapatan warga yang menurun. Harusnya, bantuan operasional sekolah (BOS) dari pusat, provinsi dan daerah itu disatukan, agar pendidikan anak-anak kita ini tak lagi berbayar alias gratis,” lanjut Bram.

Di sisi lain, Bram turut mengomentari penempatan anggaran pendidikan yang lebih banyak di habiskan untuk pembangunan infrastruktur. Padahal, investasi pendidikan dianggap Bram tak hanya tergantung dari kemewahan gedung sekolah tempat mereka belajar.

“Reposisi aja, jika selama ini fisik itu terlalu obral rasanya kurang manfaat, terlebih jika murid dibebani dengan biaya tambahan. Itu kan kurang bagus,” lugasnya.

Untuk menangani ketimpangan tersebut, diakui Bram subsidi pendidikan dan kerjasama dengan lembaga beasiswa juga harus menjadi perhatian. Terlebih, dalam waktu dekat, ibu kota negara (IKN) berada dekat dengan Kabupaten Paser.

“Supaya mereka mampu bersaing. Disekolahkan di luar negeri atau dibekali dengan kompetensi yang lebih komplit,” kata Bram.

“Ini penting untuk memproteksi tenaga kerja lokal kita kedepannya. Jangan sampai, ruang kompetisi hadirnya IKN di Paser nanti kita tak siap untuk bersaing,” pungkasnya.

Lanjut ditegaskan Bram, kualitas pendidikan Paser di masa mendatang, tak ditentukan oleh kualitas bangunan sekoalah saja. Kepastian untuk membekali anak didik dengan kualitas pendidikan yang baik, akan menjamin masa depan Paser di masa mendatang menjadi generasi-generasi yang cendikia dan kompeten dibidangnya masing-masing.

ibrahim-ahmadom-brampilkada-pasercovid-19

Baca Juga