search

Berita

Dinkes KaltimVirus Nipah

Dinkes Kaltim Perketat Pengawasan Virus Nipah di Bandara dan Pelabuhan

Penulis: Akmal Fadhil
14 jam yang lalu | 128 views
Dinkes Kaltim Perketat Pengawasan Virus Nipah di Bandara dan Pelabuhan
Ilustrasi. (Sumber: Internet)

Samarinda, Presisi.co - Dinas Kesehatan Kalimantan Timur memastikan belum ada kasus virus Nipah di wilayah Kaltim. Meski demikian, pengawasan di pintu masuk daerah diperketat sebagai langkah antisipasi.

Langkah kewaspadaan ini menyusul terbitnya Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang kewaspadaan terhadap penyakit virus Nipah.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaltim, Eryariyatin, menegaskan hingga kini belum terdapat laporan kasus konfirmasi virus Nipah pada manusia di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur.

“Belum ada. Sampai saat ini tidak terdapat laporan kasus konfirmasi penyakit virus Nipah pada manusia di Indonesia, termasuk di Kalimantan Timur,” ujarnya Kamis 12 Februari 2026.

Ia menjelaskan, virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia. 

Reservoir utamanya adalah kelelawar buah, dengan penularan melalui air liur atau urine hewan terinfeksi.

Penularan juga dapat terjadi melalui kontak erat dengan manusia atau hewan yang terpapar.

Virus ini memiliki tingkat kematian cukup tinggi dengan case fatality rate (CFR) sekitar 40–75 persen. Masa inkubasi umumnya 4–14 hari dan dalam beberapa kasus dapat mencapai 45 hari.

Gejala berat yang ditimbulkan antara lain radang otak (ensefalitis), kejang, penurunan kesadaran, hingga gangguan pernapasan.

Meski demikian, Eryariyatin menegaskan virus Nipah tidak menular semudah Covid-19 karena membutuhkan kontak erat untuk penularan.

Sebagai bentuk pencegahan, pengawasan diperketat di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan dan Pelabuhan Semayang. 

Pemeriksaan dilakukan menggunakan thermal scanner serta aplikasi All Indonesia–SATUSEHAT Health Pass (SSHP).

Petugas memantau pelaku perjalanan, khususnya dari luar negeri dan negara endemik. 

Jika ditemukan penumpang dengan gejala seperti demam, muntah, kejang, penurunan kesadaran, batuk, pilek, atau sesak napas, maka akan dilakukan pemeriksaan dan observasi lanjutan.

Selain pengawasan di pintu masuk, masyarakat terutama di wilayah pedalaman juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penularan dari kelelawar buah.

Warga diimbau tidak mengonsumsi nira yang diambil langsung dari pohon tanpa dimasak serta menghindari buah yang telah tergigit hewan.

Buah sebaiknya dicuci bersih dan dikupas sebelum dikonsumsi. Daging ternak juga harus dimasak hingga matang sempurna dan tidak diolah jika diduga terpapar.

Eryariyatin menekankan pencegahan dapat dimulai dari lingkungan keluarga dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk rutin mencuci tangan menggunakan sabun serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam setelah kontak dengan hewan liar.

“Masyarakat tidak perlu panik, cukup waspada dan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat,” pungkasnya. (*)

Editor: Redaksi