Kader Gerindra Tak Terima Rudy Mas'ud Samakan Hijrah dan Hashim
Penulis: Akmal Fadhil
Jumat, 24 April 2026 | 87 views
Anggota DPRD Kalimantan Timur, Afif Rayhan Harun dari Fraksi Parta Gerindra. (Istimewa)
Samarinda, Presisi.co — Anggota DPRD Kalimantan Timur dari Partai Gerindra, Andi Muhammad Afif Rayhan Harun, mendesak Gubernur Kalimantan Timur segera mencabut pernyataan yang dinilai tidak etis karena menyeret nama Presiden RI Prabowo Subianto dan adiknya, Hasyim Djojohadikusumo.
Afif menilai pernyataan tersebut mengandung distorsi logika dan penyesatan etika publik, terutama karena membandingkan posisi Hasyim dengan pihak dalam struktur pemerintahan daerah.
“Enggak etis dong. Itu distorsi logika dan penyesatan etika publik, dan enggak pantas serta sangat fatal konsekuensinya,” ujar Afif dalam wawancara telpon pada Jumat 24 April 2026.
Ia menegaskan, perbandingan tersebut tidak tepat karena Hasyim tidak pernah terlibat dalam struktur pemerintahan Presiden Prabowo.
“Pak Hasyim tidak masuk dalam struktur pemerintahan dan tidak digaji oleh negara. Jadi jelas berbeda, tidak apple to apple,” katanya.
Afif juga menyoroti bahwa hubungan keluarga tidak boleh menjadi dasar dalam pemberian jabatan publik.
Ia mengingatkan adanya potensi konflik kepentingan jika anggota keluarga ditempatkan dalam lingkup kekuasaan kepala daerah.
“Hubungan keluarga Presiden tidak boleh menjadi dasar pemberian jabatan publik di daerah,” tegasnya.
Sebagai kader Partai Gerindra, Afif mengaku tersinggung dengan pernyataan gubernur tersebut dan menilainya telah melampaui batas.
“Saya sebagai kader Gerindra dan anggota DPRD Kaltim menyatakan bahwa keterangan gubernur itu merupakan penghinaan dan tindakan yang sangat melampaui batas,” ucapnya.
Ia pun secara tegas mendesak gubernur untuk mencabut pernyataan tersebut dan menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
“Saya mendesak gubernur untuk mencabut pernyataannya dalam waktu sesingkat-singkatnya dan meminta maaf secara terbuka kepada Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Hasyim Djojohadikusumo,” katanya.
Menurut Afif, pernyataan tersebut sudah keliru sejak awal tanpa perlu melihat keseluruhan konteks.
“Enggak perlu didengar sampai akhir, menyamakan posisi itu saja sudah salah,” pungkasnya. (*)