Prabowo Minta PLN Percepat Transformasi Bisnis, Fokus Efisiensi dan Percepat Energi Surya 100 GW
Penulis: Redaksi Presisi
14 jam yang lalu | 72 views
Presiden Prabowo saat memanggil Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, serta Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (14/10/2026). (Foto: BPMI Setpres)
JAKARTA, PRESISI.CO – Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan percepatan transformasi PT PLN (Persero), mulai dari pembenahan model bisnis dan peningkatan efisiensi hingga percepatan penggunaan panel surya berkapasitas 100 gigawatt (GW).
Arahan tersebut disampaikan dalam pertemuan bersama Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, serta Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN Suroso Isnandar di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Rosan mengatakan, pertemuan tersebut membahas langkah untuk mempercepat transformasi PLN agar lebih efisien, produktif, dan responsif dalam menjalankan tugasnya.
“Kita membicarakan bagaimana pertama mengakselerasi transformasi di PLN untuk menjadi lebih baik, lebih cepat, lebih tanggap, dan juga mengakselerasi penggunaan 100GW solar panel,” ujar Rosan dalam keterangannya kepada awak media.
Menurut Rosan, Presiden Prabowo secara khusus meminta pembenahan model bisnis PLN agar rancangan transformasi perusahaan segera disusun dan dipaparkan kepada Kepala Negara untuk ditindaklanjuti.
“Kita juga diminta oleh Bapak Presiden agar transformasi di PLN ini baik terutama dari segi bisnis modelnya itu untuk dibuat dan untuk segera dipaparkan kepada beliau, untuk segera kita tindaklanjuti,” katanya.
Sebagai tindak lanjut, Danantara akan berkoordinasi dengan jajaran PLN untuk melakukan kajian menyeluruh terhadap model bisnis perusahaan. Evaluasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sekaligus mengurangi beban subsidi.
“Nanti kami dari Danantara tentunya akan duduk dengan tim dari PLN agar transformasi ini bisa dilakukan secara menyeluruh, sehingga ini juga bisa mengurangi subsidi atau dalam rangka meningkatkan efisiensi dan juga produktivitas di PLN,” jelas Rosan.
Ia menambahkan, evaluasi model bisnis diperlukan untuk memastikan pengelolaan PLN berjalan lebih efektif dan memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional. Pemerintah akan melakukan asesmen sebelum mengajukan usulan transformasi kepada Presiden.
“Kita akan revisit lagi, kita akan lihat lagi mengenai bisnis modelnya, bagaimana ini lebih tepatnya agar lebih efisien, lebih baik dan juga berdampak positif terhadap perekonomian kita secara keseluruhan,” ujarnya.
Selain transformasi bisnis dan percepatan penggunaan energi surya, pemerintah juga menyoroti kesiapsiagaan PLN dalam menghadapi kondisi darurat. Salah satu aspek yang menjadi perhatian ialah penyempurnaan rencana cadangan (backup plan) untuk menjaga keandalan pasokan listrik di seluruh Indonesia.
Rosan mengatakan, PLN telah memiliki mekanisme antisipasi untuk menghadapi situasi krisis. Namun, mekanisme tersebut dinilai masih perlu disempurnakan.
“Pasti sudah ada tapi yang itu perlu disempurnakan lah,” tegasnya. (*)