Penulis: Siaran Pers
Jakarta, Presisi.co – Tren olahraga di masyarakat terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Mulai dari lari marathon, bersepeda, gym, hingga olahraga intensitas tinggi (high intensity interval training/HIIT) semakin diminati oleh berbagai kalangan, termasuk usia produktif. Seiring meningkatnya kesadaran akan kebugaran, istilah seperti VO₂max pun semakin populer di kalangan pegiat olahraga.
VO₂max merupakan indikator kapasitas maksimal tubuh dalam menggunakan oksigen saat berolahraga. Nilai ini mencerminkan kebugaran kardiorespirasi dan sering dijadikan tolok ukur performa atlet maupun penggemar olahraga. Semakin tinggi VO₂max, semakin baik kemampuan jantung dan paru dalam mendukung aktivitas fisik.
Gaya hidup aktif tentu membawa dampak positif bagi kesehatan. Namun di balik semangat berolahraga, terdapat hal penting yang kerap terabaikan, yakni kesiapan kondisi jantung sebelum melakukan aktivitas fisik intens.
Secara medis, olahraga memang baik untuk kesehatan kardiovaskular. Akan tetapi, pada individu dengan faktor risiko tertentu seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, riwayat merokok, maupun riwayat keluarga dengan penyakit jantung, aktivitas fisik berat tanpa evaluasi medis dapat meningkatkan risiko gangguan jantung.
“Jangan langsung olahraga dengan intensitas tinggi, kenapa? Karena jantung kita belum terbiasa. Detak jantung kita cenderung naik, kemudian pasien yang punya faktor resiko jantung bisa saja henti jantung” ungkap dr. Dwita Rian Desandri, Sp.JP (K)
“Mulai lah olahraga dengan ‘Start Low Go Slow’ bisa dari olahraga aerobik terlebih dahulu” tambah dr. Dwita Rian Desandri, Sp.JP (K)
Para ahli menekankan pentingnya pemeriksaan atau screening jantung sebelum mengikuti event olahraga kompetitif seperti lomba lari jarak jauh atau kegiatan fisik intens lainnya. Evaluasi dapat meliputi pemeriksaan rekam jantung (EKG), uji latih beban (treadmill test), echocardiography, CPET Test serta konsultasi dengan dokter spesialis jantung sesuai indikasi.
Melalui pendekatan sport cardiology, risiko gangguan jantung saat olahraga dapat dideteksi lebih dini. Pemeriksaan ini tidak hanya ditujukan bagi atlet profesional, tetapi juga masyarakat umum yang aktif berolahraga, khususnya mereka yang berusia di atas 35 tahun atau memiliki faktor risiko kardiovaskular.
Sebagai upaya preventif, masyarakat dianjurkan untuk tidak hanya fokus pada peningkatan performa olahraga, tetapi juga memastikan kondisi jantung dalam keadaan optimal. Pemeriksaan berkala menjadi langkah penting untuk mendukung aktivitas fisik yang aman dan berkelanjutan.
Dengan meningkatnya tren olahraga di masyarakat, kesadaran akan pentingnya evaluasi kesehatan jantung sebelum beraktivitas intens diharapkan turut meningkat. Olahraga memang menyehatkan, namun memastikan jantung siap adalah langkah awal yang tidak boleh diabaikan.
Masyarakat yang ingin melakukan evaluasi kesehatan jantung sebelum memulai atau meningkatkan intensitas olahraga dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan sport cardiology di RSJPD Harapan Kita. Pemeriksaan komprehensif yang tersedia meliputi konsultasi dokter spesialis jantung dan subspesialis sport medicine (sport cardiologist).




