Kata Pengamat Soal Dugaan BBM Oplosan di Samarinda
Penulis: Akmal Fadhil
11 jam yang lalu | 93 views
Aparat Kepolisian saat meninjau sejumlah SPBU di Samarinda. (Sumber: Istimewa)
Samarinda, Presisi.co - Pengamat Ekonomi dan Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mulawarman, Hairul Anwar, menilai bahwa fenomena kendaraan mogok akibat dugaan penurunan kualitas Bahan Bakar Minyak (BBM) bisa disebabkan oleh kondisi truk tangki pengiriman yang kotor.
Menurut Hairul, kejadian ini tidak bisa serta-merta menyalahkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Samarinda, mengingat beberapa sampel BBM dari sejumlah penyuplai masih menunjukkan kualitas yang baik.
“Kita harus mengkaji lebih lanjut, berapa jumlah SPBU di Samarinda dan SPBU mana yang paling banyak mengalami kasus kendaraan mogok setelah mengisi BBM,” ujarnya dalam wawancara via telepon, Jumat, 4 April 2025.
Ia menambahkan, jika hanya satu atau beberapa SPBU yang bermasalah, maka kemungkinan besar sumber persoalan berasal dari tangki pengiriman yang kotor. Hairul juga menyoroti dugaan adanya BBM oplosan, yang menurutnya tidak mungkin terjadi secara merata di semua titik penjualan.
“Kalau benar ada BBM oplosan, maka seharusnya semua BBM yang beredar mengalami masalah serupa. Namun, kita masih melihat beberapa penjual eceran yang BBM-nya tetap aman dan masih menjadi pilihan pengendara meski isu ini sedang ramai,” jelasnya.
Hairul menyayangkan dampak dari kejadian ini, terutama bagi pengendara yang mengandalkan kendaraan mereka untuk mencari nafkah. Biaya perbaikan kendaraan yang tinggi berpotensi menekan perekonomian masyarakat yang terdampak.
“Saya sangat prihatin dengan kondisi ini. Jika tidak segera diselesaikan, masalah ini bisa semakin meluas dan memicu gejolak di masyarakat. Harus ada tindak lanjut segera,” tegasnya.
Sementara itu, Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) 30, Buyung Marajo, menekankan pentingnya penyelidikan terhadap sumber BBM yang didistribusikan. Ia menilai bahwa celah dalam sistem distribusi ini bisa membuka peluang bagi tindakan kecurangan.
“Kita harus menyelidiki asal bahan bakarnya, bagaimana pengelolaannya, siapa yang memiliki teknologi penyulingannya, dan dari mana masuknya dugaan kecurangan ini. Pertamina harus diusut tuntas,” ujarnya dengan nada tegas.
Di sisi lain, persoalan ini juga ramai dibahas di media sosial. Sejumlah netizen berpendapat bahwa permasalahan BBM tidak bisa sepenuhnya disalahkan pada operator SPBU.
“Jangan salahkan operator SPBU, mereka hanya petugas. Kenapa tidak langsung ditelusuri ke kantor pusatnya?” tulis pengguna akun Instagram @yoziside dalam kolom komentar di laman Instagram Busamsamarinda.
Tak hanya itu, kekhawatiran masyarakat juga semakin meningkat. Seorang pengendara bahkan membagikan pengalamannya saat motornya mogok di tengah jalan dan hampir tertabrak dari belakang.
“Minggu lalu motor saya tiba-tiba mati di tanjakan, nyaris kena seruduk dari belakang. Kondisi begini sangat berbahaya,” ungkap pengguna Instagram @Nicoborneo.