search

Daerah

Belajar Tatap Muka di Kaltimuniversitas mulawarmanEncik Akhmad SyaifudinWakil Rektor Unmul

Unmul Belum Pasti Terapkan Belajar Tatap Muka, Ini Kata Wakil Rektor

Penulis: Jeri Rahmadani
Sabtu, 24 April 2021
Unmul Belum Pasti Terapkan Belajar Tatap Muka, Ini Kata Wakil Rektor
Gedung Rektorat Universitas Mulawarman. (Jeri Rahmadani/Presisi.co)

Samarinda, Presisi.co – Pemerintah pusat melalui SKB empat menteri mengatur pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas pada Juli 2021. Perguruan tinggi disebut juga bisa belajar luring atas izin rektor, satgas Covid-19 setempat, pemerintah daerah, dan orangtua atau mahasiswa.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Mulawarman Encik Akhmad Syaifudin menjelaskan, wacana PTM berlandaskan pedoman yang ada seperti karakter SD, SMP, SMA, yang dalam wilayah tidak terlalu jauh. Namun, untuk perguruan tinggi disebutnya berbeda. Ada yang dari luar daerah di seluruh Indonesia yang miliki potensi penularan lebih besar.

"Kami perlu memperhitungkan kegiatan-kegiatan yang mendukung PTM. Jangan sampai siap melaksanakan namun belum ada protokol kesehatan dan segala macamnya," ucapnya saat disambangi Presisi.co, Jumat 23 April 2021.

Seperti pelaksanaan UTBK Universitas Mulawarman gelombang I dan II beberapa waktu lalu, Encik menjelaskan, semua peserta harus tes antigen dulu. Jika PTM diterapkan di Unmul, menurutnya bisa saja dilakukan dengan cara seperti itu.

"Saat ini menunggu saran Satgas Covid-19 Unmul. Intinya kami sangat perhatian terhadap kebutuhan daerah. Kalau belum memungkinan, kami belum berani juga. Yang dikhawatirkan naiknya gelombang ketiga," paparnya. 

Meski pandemi berdampak di segala aspek, Encik menyebut belum ada mahasiswa yang mundur akibat pandemi.

"Sepanjang yang saya ketahui belum ada," ucapnya kepada Presisi.co, Sabtu 24 April 2021.

Ketua Satgas Covid-19 Unmul Nataniel Tandirogang menyatakan, vaksinasi di Unmul belum dapat dipastikan. "Kalau PTM masih mencermati situasi," singkatnya.

Mengidamkan Belajar Tatap Muka

Encik yang juga dosen di Fakultas Pertanian Unmul sempat kelabakan menghadapi metode belajar virtual. Pasalnya, ia yang sudah berumur mengaku tak terlalu lihai menggunakan teknologi digital. Ia harus beradaptasi dengan Zoom meeting, conference call, dan software lainnya.

"Cukup lama kami menyesuaikan piranti ini untuk bertemu dengan mahasiswa. Akhirnya semua tetap berjalan, walaupun di awal sempat terseok-seok," ungkapnya.

Encik menyatakan, berhasilnya belajar daring didorong keaktifan mahasiswa itu sendiri. "Apakah mahasiswa tersebut siap belajar daring. Semisal dengan rajin bertanya, dan aktif berbicara," tuturnya.

Encik menyadari pembelajaran daring pada mahasiswa baru menjadi kendala tersendiri. Mahasiswa angkatan 2020 belum pernah bertemu langsung dengan dosen. Sedangkan, proses ajar-mengajar perlu melihat kondisi psikologis mahasiswa. "Kalau yang 2021 ini juga daring, otomatis juga belum bisa bertemu," paparnya.

Mahasiswa hukum Unmul angkatan 2020 Lusy Ana mengatakan, pembelajaran kuliah daring saat ini kurang efektif. Sebab sewaktu-waktu dapat terkendala jaringan. “Belajar di rumah membuat saya kurang fokus. Apalagi saya sambil menjaga adik di rumah," ungkapnya kepada Presisi.co, Sabtu 24 April 2021.

Lusy belum pernah sekalipun bertemu dengan dosennya langsung. Dalam sehari ada sekitar empat jam Lusy harus berada di depan laptop menyimak kuliah daring. Atau, bisa saja hanya satu jam setengah. Bergantung banyaknya jumlah mata kuliah yang ada.

Berjam-jam menatap layar komputer membuat bola mata Lusy jadi kering. Pun begitu teman sekelasnya Abdul Aziz yang menyebut hal serupa. Mereka senang jika PTM pada Juli 2021 terlaksana. Walaupun membutuhkan waktu untuk beradaptasi. "Saya bisa menangkap materi dengan cukup baik. Namun koneksi internet kerap jadi kendala," kata Aziz.

Diberitakan sebelumnya, Gubernur Kaltim Isran Noor memberikan sinyal ditundanya PTM di Kaltim. Tingginya penyebaran angka pandemi menjadi alasan utama. "Selama masih ada Covid-19, jangan dulu ada aktivitas tatap muka. Sampai betul-betul aman," ucap Isran. (*)

Editor: Rizki