Mahasiswa Jadi Motor Perubahan, Aksi Hijau Gaungkan Kepedulian terhadap Sungai Karang Mumus
Penulis: Muhammad Riduan
1 jam yang lalu | 0 views
Samarinda, Presisi.co – Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Nasional Sosial Masyarakat BEM SI Wilayah Kalimantan (VIII) menggelar kegiatan "Aksi Hijau" di bantaran Sungai Karang Mumus, Samarinda. Kegiatan yang berkolaborasi dengan komunitas Gerakan Memungut Sehelai Sampah, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, dan Polairud itu menjadi upaya bersama membangun kepedulian masyarakat terhadap persoalan sampah di kawasan sungai.
Melalui aksi memungut sampah di sepanjang bantaran sungai, para peserta ingin menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.
Menteri Sosial Masyarakat dan Keagamaan Dema UINSI Samarinda, Muhammad Iqbal Syafi'i Ma'arif, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata pengabdian kepada masyarakat sekaligus membangun kesadaran kolektif terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
"Tindakan kecil yang dilakukan bersama adalah bentuk pengabdian publik yang menandai kebangkitan kesadaran kolektif terhadap lingkungan," ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan yang tidak hanya menyuarakan isu lingkungan, tetapi juga menggerakkan masyarakat untuk mengubah perilaku dalam pengelolaan sampah.
Persoalan sampah di Sungai Karang Mumus sendiri masih didominasi limbah rumah tangga, terutama sampah plastik dan sampah organik yang menumpuk di bantaran sungai. Kondisi tersebut berpotensi menurunkan kualitas air sekaligus meningkatkan risiko penyumbatan aliran saat musim hujan.
Kolaborasi antara mahasiswa, komunitas, pemerintah daerah, dan aparat kepolisian dinilai menjadi langkah penting dalam mendorong penyelesaian persoalan tersebut secara berkelanjutan.
Selain melalui aksi bersih-bersih sungai, mahasiswa juga mendorong penguatan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, termasuk pengelolaan sampah sejak dari rumah tangga.
Mereka berharap kegiatan serupa tidak berhenti sebagai aksi seremonial, tetapi berkembang menjadi program berkelanjutan yang melibatkan masyarakat, pemerintah, dunia pendidikan, hingga sektor swasta.
Dengan demikian, keberhasilan gerakan peduli lingkungan tidak hanya diukur dari banyaknya sampah yang berhasil dikumpulkan, melainkan dari terbentuknya budaya baru masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai serta lahirnya kebijakan yang semakin berpihak pada pelestarian lingkungan.(*)