Sendiri di Ujung Usia, Samin Bertahan Hidup di Gubuk Kayu yang Sunyi
Penulis: Muhammad Riduan
1 jam yang lalu | 0 views
Samin (70) saat berada di gubuknya.(Presisi.co/Muhammad Riduan)
Samarinda, Presisi.co – Di sebuah gubuk kayu berukuran 4 x 4 meter, terjepit antara permakaman Katolik dan lahan pertanian di Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, Samin (70) menjalani hari-harinya seorang diri. Tanpa keluarga, tanpa listrik, dan tanpa kepastian bantuan, pria lansia ini bertahan hidup dalam sunyi, mengandalkan sisa tenaga dan prinsip hidup yang ia pegang teguh hingga usia senja.
Hunian sederhana tanpa pagar itu berdiri di atas perbukitan yang dipenuhi semak belukar. Jauh dari kata layak, bangunan tersebut menjadi saksi bisu perjuangan Samin melawan sepi dan keterbatasan hidup.
Gubuk yang ditempati Samin tersusun dari kayu-kayu bekas yang telah menghitam dimakan usia. Atap seng berkarat menjadi satu-satunya pelindung dari panas dan hujan. Di dalamnya, tak ada sekat ruang tempat tidur, dapur, dan ruang beristirahat menyatu dalam kesempitan.
Tanpa akses listrik, Samin hanya mengandalkan cahaya lilin untuk menerangi malam. Untuk kebutuhan mandi, mencuci, dan minum, ia sepenuhnya bergantung pada air hujan yang ditampung dalam sebuah drum tua.
“Kawasan ini dulu masih tanah merah semua, belum ada aspal, apalagi kuburan,” tutur perantau asal Madura kelahiran 17 April 1955 ini pada Minggu 11 Januari 2026 lalu.
Gubuk tersebut berdiri berkat kebaikan seorang tokoh lokal yang tergerak melihat kondisi Samin. Dengan memanfaatkan sisa material bangunan, hunian itu direnovasi secara sederhana dengan biaya sekitar Rp 6 juta, tanpa mengharapkan imbalan apa pun.
Hidup Sendiri Tanpa Sandaran
Kesunyian Samin tak hanya soal tempat tinggal. Ia telah kehilangan hampir seluruh sandaran hidupnya. Sang istri telah lama meninggal dunia, sementara anak semata wayangnya kini harus menjalani hukuman di balik jeruji besi. Hubungan dengan saudara-saudaranya pun terputus sejak lama.
Demi menjaga kehormatan, Samin pernah menjual sepeda motor kesayangannya seharga Rp 1,4 juta untuk melunasi utang biaya pengobatan.
“Lebih baik kehilangan kendaraan daripada menghadap Sang Khalik dengan membawa hutang,” ucapnya.
Kini, kondisinya semakin terbatas. Cedera kaki akibat kecelakaan dan penyakit asam urat membuatnya sulit berjalan jauh. Tak jarang, ia harus berhenti dan beristirahat di tepi jalan hanya untuk menempuh jarak pendek.
Sedangkan untuk menyambung hidup, Samin mengolah kebun kecil yang ditanami buncis. Dari hasil kebun itu, ia memperoleh penghasilan yang tak menentu, berkisar Rp 200.000 hingga Rp 300.000 per bulan.
Menu hariannya sangat sederhana. Singkong rebus dan daun singkong menjadi makanan pokok. Lauk seperti ikan atau telur hanya ia nikmati sebulan sekali, itu pun jika ada tetangga yang berbaik hati memberinya.
Meski memiliki BPJS, jarak dan keterbatasan fisik membuatnya sulit mengakses layanan kesehatan. Ia juga mengaku belum pernah menerima bantuan tunai dari pemerintah.
Namun, di tengah keterbatasan tersebut, ia tetap memegang teguh martabatnya.
“Saya tidak mau jadi peminta-minta. Selama tangan masih bisa bergerak, saya akan tetap bekerja,” tegas Samin.
Ia masih bersedia mencangkul atau membersihkan kebun milik orang lain jika tenaganya dibutuhkan. Di gubuk kecil di tepi kesunyian permakaman itu, Samin menjalani hari demi hari dengan satu tekad: bertahan hidup seorang diri, dengan cara yang ia anggap paling terhormat. (*)