DPRD Samarinda Usul Materi Antinarkoba Masuk Pembelajaran Sekolah
Penulis: Redaksi Presisi
Jumat, 28 Agustus 2026 | 477 views
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi. (Presisi.co)
Samarinda, Presisi.co — DPRD Samarinda mendorong pencegahan penyalahgunaan narkoba diperkuat sejak lingkungan sekolah. Salah satu usulan yang muncul ialah mengintegrasikan materi antinarkoba ke dalam pembelajaran maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, mengatakan upaya pencegahan perlu dilakukan lebih awal agar penanganan narkoba tidak hanya berjalan setelah kasus terjadi.
Menurutnya, sekolah menjadi salah satu ruang penting untuk membangun pemahaman pelajar mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba.
“Tadi ada beberapa rekomendasi, misalnya memasukkan antinarkoba sebagai bagian dari kurikulum, mengintegrasikan kemudian kaitannya pencegahan narkoba ke entah itu mata pelajaran atau kegiatan ekstra. Nanti kita lihat kemudian kira-kira tepatnya di mana,” kata Ismail, Kamis (27/8/2026).
Ia menilai edukasi antinarkoba perlu ditempatkan sebagai bagian dari langkah pencegahan yang berkelanjutan, bukan sekadar respons ketika kasus sudah muncul.
“Kita berharap pencegahan ini lebih utama, lebih dominan. Bukan kemudian sifatnya reaksioner, karena ada kasus kemudian kita sibuk. Ada kasus kita sibuk,” tegasnya.
Menurut Ismail, pencegahan juga perlu melibatkan berbagai pihak agar tidak berhenti sebagai program di sekolah. Keluarga, pemerintah dan unsur terkait dinilai perlu memiliki perhatian yang sama terhadap persoalan narkoba.
“Kita berharap ini tidak sekadar reaksi dari kasus, tapi betul-betul pencegahan. Jadi terintegrasi kemudian semua, agar ini menjadi konsen, menjadi perhatian bersama di Kota Samarinda,” ujarnya.
Selain memasukkan materi antinarkoba dalam pembelajaran, DPRD Samarinda juga membahas kemungkinan tes urine bagi pelajar sebagai salah satu upaya deteksi dini.
Ismail mengatakan tes urine belum menjadi pembahasan utama dalam pertemuan tersebut. Namun, menurutnya, langkah itu dapat membantu orang tua mengetahui lebih cepat jika terdapat indikasi penyalahgunaan narkoba pada anak.
“Sebetulnya enggak ada masalah kemudian dengan tes urine. Kalau kita bicara orang tua, kalau seandainya orang tuanya tahu anaknya pengguna, naudzubillah, salah satu sarananya dengan tes urine,” katanya.
Ia menyebut persoalan kemudian berkaitan dengan pembiayaan jika tes urine diterapkan kepada seluruh pelajar di Samarinda.
“Kalau seandainya anggaran itu dibebankan ke pemerintah kota untuk masing-masing anak, sekian banyak siswa kita se-Kota Samarinda dites urine semua, lumayan anggarannya,” tandasnya. (*)