search

Berita

Hipertensi ParuRSJPD Harapan Kitadr. Aditya Agita SembiringDokter JantungDokter Spesialis Jantung

Hipertensi Paru: Penyakit Langka yang Berbahaya dan Perlu Diwaspadai

Penulis: Presisi 1
11 jam yang lalu | 84 views
Hipertensi Paru: Penyakit Langka yang Berbahaya dan Perlu Diwaspadai
Ilustrasi. (Sumber: Istimewa)

Jakarta, Presisi.co - Hipertensi paru merupakan penyakit serius yang masih belum banyak dikenal masyarakat. Kondisi ini terjadi akibat meningkatnya tekanan pada pembuluh darah paru sehingga membuat kerja jantung, khususnya jantung kanan, menjadi lebih berat. Jika tidak ditangani dengan baik, hipertensi paru dapat berkembang menjadi gagal jantung hingga menyebabkan kematian dini.

Menurut dr. Aditya Agita Sembiring, Sp.JP(K), Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, hipertensi paru dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Penyakit ini bersifat progresif dan memerlukan penanganan jangka panjang.

“Hipertensi paru merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan tekanan pembuluh darah paru sehingga meningkatkan beban bagi jantung kanan,” jelas dr. Aditya.

Berbeda dengan hipertensi biasa yang dapat diketahui melalui pemeriksaan tekanan darah, hipertensi paru memiliki gejala yang cenderung tidak spesifik sehingga sering terlambat terdiagnosis. Pada tahap awal, penderita biasanya hanya merasakan cepat lelah saat melakukan aktivitas yang sebelumnya dapat dilakukan dengan normal. Seiring perkembangan penyakit, gejala lain dapat muncul seperti nyeri dada, sesak napas, pingsan, perut terasa begah, mual muntah, batuk, hingga pembengkakan pada kaki. Dalam beberapa kasus, pasien juga dapat mengalami batuk darah.

Untuk memastikan diagnosis, diperlukan serangkaian pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi (EKG), rontgen dada, ekokardiografi, CT scan dada, tes fungsi paru, hingga kateterisasi jantung.

Hingga saat ini, belum terdapat terapi yang dapat menyembuhkan hipertensi paru secara permanen. Namun, pengobatan yang tepat dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien sekaligus memperpanjang harapan hidup.

Terapi yang diberikan dapat berupa obat diuretik untuk mengurangi keluhan sesak dan bengkak, obat pengencer darah, hingga obat pelebar pembuluh darah paru seperti sildenafil yang umumnya harus dikonsumsi seumur hidup. Pada beberapa pasien, terapi oksigen jangka panjang juga diperlukan.

Pada kondisi tertentu, tindakan intervensi lanjutan bahkan dapat dilakukan, mulai dari prosedur pemotongan sekat atrium menggunakan balon hingga transplantasi paru.

Selain pengobatan medis, pasien hipertensi paru juga dianjurkan tetap aktif secara fisik selama tidak menimbulkan gejala berat. Dukungan keluarga dan lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam menjaga kondisi psikologis pasien selama menjalani terapi jangka panjang.

dr. Aditya juga mengingatkan bahwa penderita hipertensi paru perlu berhati-hati terhadap kehamilan karena kondisi ini dapat membahayakan ibu maupun janin. Selain itu, vaksinasi influenza dan pneumonia sangat dianjurkan untuk mencegah infeksi paru yang dapat memperburuk kondisi pasien.

Tanpa penanganan yang tepat, hipertensi paru memiliki risiko kematian yang cukup tinggi. Data menunjukkan sekitar 15 persen pasien meninggal dalam tahun pertama apabila tidak mendapatkan terapi, dan angka tersebut terus meningkat dalam beberapa tahun berikutnya.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengabaikan gejala seperti cepat lelah, sesak napas, atau nyeri dada yang berlangsung terus-menerus. Deteksi dini dan pengobatan yang tepat dapat membantu memperlambat progresivitas penyakit dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Jika Anda atau keluarga mengalami gejala yang mengarah pada hipertensi paru, segera lakukan pemeriksaan ke dokter spesialis jantung untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat sedini mungkin.

Untuk informasi dan pendaftaran layanan jantung, hubungi Contact Center 1500034, WhatsApp 0811 911 5045, atau Marketing 0812 9000 4370.