search

Lifestyle

RSJPD Harapan KitaDudy Arman Hanafy Operasi Jantung Robotik Bedah Jantung Robotik

Terobosan Sejarah: Operasi Jantung Robotik Pertama di Indonesia Berhasil Dilakukan

Penulis: Redaksi Presisi
Rabu, 11 Maret 2026 | 26 views
Terobosan Sejarah: Operasi Jantung Robotik Pertama  di Indonesia Berhasil Dilakukan
Ilustrasi Jantung Robotik. (Istimewa)

Jakarta, Presisi.co – Dunia bedah jantung Indonesia memasuki babak baru. Tonggak sejarah ketika operasi jantung berbantuan robotik pertama di Indonesia berhasil dilakukan oleh dr. Dudy Arman Hanafy, MD, PhD, Senior Consultant Bedah Jantung dan Pembuluh Darah di RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita.

Pencapaian ini menandai lompatan besar dalam layanan kardiovaskular nasional, menghadirkan teknik bedah minimal invasif dengan presisi tinggi dan risiko komplikasi yang lebih rendah dibandingkan operasi konvensional dengan sternotomi.

“Bedah jantung selama ini identik dengan sayatan besar dan masa pemulihan yang panjang. Dengan teknologi robotik, kita dapat melakukan prosedur kompleks melalui sayatan kecil dengan hasil yang tetap optimal, bahkan lebih baik dalam banyak aspek,” ujar dr. Dudy.

Evolusi Panjang Menuju Teknologi Robotik

Secara global, operasi jantung berbantuan robot pertama kali dilakukan pada 1998 oleh Alain Frédéric Carpentier untuk perbaikan katup mitral. Sejak itu, teknologi ini berkembang pesat dan kini digunakan secara luas untuk coronary artery bypass grafting (CABG), perbaikan atau penggantian katup mitral, hingga prosedur tertentu seperti perbaikan atrial septal defect (ASD).

Di Indonesia, teknik minimally invasive cardiac surgery telah dimulai sejak akhir 1990-an di RSJPD Harapan Kita melalui prosedur MIDCAB. Satu dekade kemudian, pendekatan serupa diterapkan pada operasi katup mitral. Teknologi robotik sendiri mulai diperkenalkan pada 2012, meski awalnya terbatas untuk tindakan non-jantung.

“Perjalanan ini bukan proses instan. Dibutuhkan kesiapan tim, infrastruktur, pelatihan intensif, dan komitmen terhadap keselamatan pasien. Tahun 2024 menjadi momentum ketika semua elemen tersebut siap,” jelas dr. Dudy.

Risiko Lebih Rendah, Pemulihan Lebih Cepat

Berbagai studi internasional menunjukkan bahwa robotic-assisted CABG memiliki angka mortalitas 30 hari yang rendah, yakni 0,3% untuk non-TECAB dan 0,9% untuk TECAB. Risiko infeksi luka juga dilaporkan sangat rendah, sekitar 0,3%.

Selain itu, pada bedah katup mitral robotik, analisis 1.000 kasus di Cleveland Clinic menunjukkan 99,7% pasien meninggalkan ruang operasi dengan regurgitasi minimal atau tanpa sisa kebocoran, serta angka mortalitas yang sangat rendah.

Menurut dr. Dudy, manfaat utama pendekatan ini tidak hanya pada angka statistik, tetapi juga pengalaman pasien.

“Dengan sayatan yang jauh lebih kecil, pasien mengalami nyeri lebih minimal, risiko infeksi lebih rendah, dan proses pemulihan yang lebih cepat. Ini berarti mereka bisa kembali beraktivitas dan produktif lebih dini,” tegasnya.

Masa Depan Layanan Jantung Indonesia

Teknologi robotik juga memungkinkan kombinasi prosedur bedah dengan intervensi kateter dalam pendekatan hybrid coronary revascularization (HCR), membuka opsi terapi yang lebih komprehensif untuk pasien penyakit jantung koroner multi-pembuluh.

“Robotik bukan sekadar tren teknologi. Ini adalah evolusi cara kita merawat pasien jantung lebih presisi, lebih aman, dan lebih manusiawi,” pungkas dr. Dudy.

Dengan pencapaian ini, Indonesia semakin memperkuat posisinya dalam peta layanan jantung modern di kawasan, sekaligus memberikan harapan baru bagi pasien yang membutuhkan tindakan bedah dengan risiko minimal dan hasil maksimal.