Penulis: Muhammad Riduan
SAMARINDA, Presisi.co — Jeruji besi terbukti bukan penghalang bagi imajinasi dan kreativitas. Erik (45), seorang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lapas Kelas II A Samarinda, membuktikan bahwa masa hukuman bisa bertransformasi menjadi masa produktif melalui goresan kuas dan warna.
Pria yang sebelumnya dikenal sebagai pengrajin ukiran kayu ulin ini telah menekuni seni lukis selama hampir lima tahun masa pembinaannya di Lapas yang berlokasi di Jalan Jenderal Sudirman tersebut. Tak main-main, ratusan karya telah lahir dari tangan dinginnya.
“Sudah banyak, mungkin ratusan. Saya sudah tidak ingat lagi jumlah pastinya,” ungkap Erik saat berbincang dengan Presisi.co.
Karya Erik cukup beragam, mulai dari lukisan di atas kanvas hingga karya relief yang memiliki tekstur mendalam. Untuk sebuah lukisan kanvas, Erik mampu menyelesaikannya hanya dalam waktu satu hari. Namun, untuk karya relief, ia membutuhkan waktu minimal tiga hari karena tingkat kerumitannya.
Menariknya, karya-karya Erik bukan sekadar koleksi internal. Lukisan dan relief buatannya kerap dipilih sebagai cenderamata prestisius bagi tamu-tamu penting yang mengunjungi Lapas, termasuk para pejabat kepala daerah di Samarinda hingga tingkat Provinsi Kalimantan Timur.
“Lukisan kanvas biasanya untuk kegiatan harian, kalau relief seringnya dibuat berdasarkan permintaan atau pesanan khusus,” tambahnya.
Kepala Lapas Kelas II A Samarinda, Yohanes Varianto, memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi Erik. Menurutnya, potensi Erik tidak hanya menghidupkan suasana kreatif di Lapas, tetapi juga menjadi sarana transfer ilmu bagi warga binaan lainnya.
“Kami sangat berterima kasih. Erik membawa potensi dari luar, mengembangkannya di sini, dan yang terpenting, dia bersedia mengajarkan keterampilannya kepada rekan-rekan sesama warga binaan,” puji Yohanes.
Yohanes juga mengungkapkan bahwa karya Erik pernah diboyong ke Jakarta untuk mengikuti pameran berskala nasional dan mendapatkan respons yang sangat positif dari pengunjung.
Erik yang dijadwalkan akan segera menghirup udara bebas dalam waktu dekat, diharapkan tetap konsisten berkarya. Pihak Lapas pun membuka pintu lebar-lebar jika Erik ingin kembali berkunjung sebagai mentor bagi rekan-rekannya di dalam setelah ia sukses di luar nanti.
“Harapan kami, keahlian ini menjadi bekal ekonomi dan sosial saat ia kembali ke masyarakat. Kami terbuka jika nantinya ia ingin berbagi ilmu lagi di sini sebagai instruktur tamu,” tutup Yohanes. (*)
Editor: Redaksi




