Penulis: Siaran Pers
Jakarta, Presisi.co – Gorengan hampir selalu menjadi menu favorit saat berbuka puasa. Bakwan, tahu isi, risoles, hingga pastel kerap menjadi pilihan utama setelah seharian menahan lapar dan haus. Namun di balik rasanya yang gurih dan menggugah selera, konsumsi gorengan secara berlebihan dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan, terutama kesehatan jantung.
Setelah berpuasa, tubuh cenderung menginginkan asupan tinggi kalori untuk mengembalikan energi dengan cepat. Makanan yang digoreng memang memberikan rasa kenyang dan kepuasan instan. Akan tetapi, proses penggorengan terutama dengan minyak yang digunakan berulang kali dapat meningkatkan kandungan lemak jenuh dan lemak trans dalam makanan.
“1 buah gorengan setara dengan 100gr nasi, konsumsi gorengan saat buka puasa sangat tidakdianjurkan walau dalam jumlah sedikit. Karena gorengan mengandung lemak trans dan lemak jenuh yang bisa meningkatkan resiko penyumbatan pembuluh darah” ujar Dr. Okti Rodia, Sp. GK
Konsumsi lemak jenuh yang berlebihan berisiko meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. Kondisi ini dapat berkembang menjadi Kolesterol Tinggi, yang dalam jangka panjang berkontribusi terhadap penyempitan pembuluh darah jantung atau Penyakit Jantung Koroner.
Penyempitan pembuluh darah menyebabkan aliran darah ke otot jantung tidak optimal. Jika tidak terkontrol, kondisi ini dapat menimbulkan keluhan seperti nyeri dada, sesak napas, hingga meningkatkan risiko serangan jantung.
Selain itu, konsumsi gorengan dalam jumlah banyak saat berbuka juga dapat memicu gangguan pencernaan seperti perut begah dan rasa panas di dada. Pada beberapa kasus, keluhan ini dapat menyerupai nyeri dada akibat gangguan jantung sehingga menimbulkan kekhawatiran.
Para ahli menyarankan agar masyarakat tetap bijak dalam memilih menu berbuka. Gorengan tidak harus sepenuhnya dihindari, namun sebaiknya dibatasi jumlahnya. Mengawali berbuka dengan air putih dan kurma, diikuti makanan rendah lemak seperti sup atau buah, dapat membantu tubuh beradaptasi secara bertahap setelah berpuasa.
“lebih baik makan makanan yang memang belum diolah, contohnya bisa berupa buah buahan seperti kurma, apel, alpukat dan pepaya, atau makanan yang sudah kita olah dengancara direbus, dikukus atau dipanggang.” Tambah Dr. Okti Rodia, Sp. GK
Ramadan dapat menjadi momentum untuk memperbaiki pola makan dan menjaga kesehatan jantung. Mengurangi konsumsi makanan tinggi lemak, mengontrol porsi, serta tetap aktif bergerak menjadi langkah sederhana namun efektif dalam menjaga kondisi kardiovaskular.
Masyarakat, terutama yang memiliki faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, atau riwayat penyakit jantung, dianjurkan untuk memantau kondisi kesehatannya secara berkala agar tetap aman menjalani ibadah puasa.
Sebagai upaya mendukung pola makan yang lebih sehat selama Ramadan, masyarakat juga dapat mengikuti program HeartFit Diet yang tersedia di RSJPD Harapan Kita. Program ini dirancang khusus untuk membantu menjaga kesehatan jantung melalui pengaturan pola makan yang seimbang, terukur, dan sesuai dengan kondisi medis masing-masing individu. Dengan pendampingan tenaga profesional, HeartFit Diet menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin tetap menikmati Ramadan tanpa mengabaikan kesehatan jantung. (*)




