Penulis:
JAKARTA, Presisi.co - Risiko peningkatan infeksi T.gondii hingga enam kali lipat pada pasien HIV/AIDS terjadi akibat perilaku hubungan seks oral.
Fakta ilmiah ini terungkap dalam penelitian tim yang dipimpin Rizky Fajar Meirawan terhadap 197 pasien HIV/AIDS yang sedang menjalani terapi ARV di wilayah Jakarta, Bekasi, Bogor, dan Depok. Selain hubungan seks oral, hubungan seks anal juga menjadi faktor risiko infeksi T. gondii pada pasien HIV/AIDS.
“Parasit T. gondii dalam fase kista, bradizoit, dan takizoit, dapat berada pada cairan ejakulasi dan semen pada pria. Oleh karenanya, hubungan seks oral tanpa menggunakan kondom, dapat menjadi rute infeksi, karena saat berhubungan seks oral, parasit yang terdapat dalam cairan semen dan ejakulat tersebut dapat tertelan," ujar Rizky dalam penjelasannya di Jakarta, akhir pekan lalu.
Rizky menambahkan fakta ini menjadi dasar edukasi dan promosi kesehatan, khususnya bagi pasien HIV/AIDS, dan populasi khusus yang rentan terinfeksi HIV/AIDS, seperti pasangan dan partner seksual pasien HIV/AIDS, individu dengan orientasi seksual homoseksual dan gay, laki-laki dan wanita pekerja seksual, serta waria.
Sebabkan kematian
Pengajar dari Universitas Indonesia Maju ini menjelaskan bahwa infeksi T. gondii menjadi salah satu penyakit infeksi oportunistik, yang berbahaya dan menyebabkan kematian pada pasien HIV.
Infeksi T. gondii pada otak dapat menyebabkan radang selaput otak (meningitis) dan radang otak (encephalitis). Selain itu, penyakit ini juga menyebabkan kebutaan karena adanya occular toxoplasmosis. Seluruh gejala klinis ini mayoritas terjadi pada pasien HIV, yang telah mengalami penurunan status imunitas atau kekebalan tubuh (imunokompromi). Dalam kondisi pasien HIV masih dalam kondisi imunitas yang baik atau imunokompeten, infeksi T. gondii tidak menunjukkan gejala klinis berat.
Mayoritas infeksi T. gondii pada individu imunokompeten, hanya memunculkan gejala klinis mirip infeksi flu atau flu-like symptoms. Mayoritas infeksi T. gondii pada pasien HIV terdiagnosis pada pasien HIV dalam kondisi imunokompromi, dengan kadar CD4 di bawah 100 sel per µl. Hal ini akan menurunkan peluang keberhasilan pengobatan infeksi T. gondii.
Oleh karena itu, skrining dan diagnosis infeksi T.gondii ketika pasien HIV masih dalam kondisi imunokompeten menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas perawatan dan pengobatan HIV di Indonesia. Ketika seorang pasien HIV terdiagnosis infeksi T. gondii, di fase awal/stadium I-II, peluang keberhasilan pengobatan penyakit ini menjadi terbuka.
“Sebaiknya skrining dan diagnosis infeksi T. gondii dilakukan ketika pasien HIV masih berada pada kondisi imunokompeten, dengan kadar CD4 di atas 200 sel/µl. Pengobatan infeksi T. gondii pada kondisi tersebut akan meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan, sekaligus menurunkan potensi munculnya meningitis, encephalitis, dan ocular toxoplasmosis yang dapat menimbulkan kematian dan/atau menurunkan kualitas hidup pasien,” pungkas Rizky Fajar Meirawan.
Penelitian ini melibatkan peneliti dan pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Lysa Veterini, pengajar dan peneliti dari Universitas Indonesia Maju Desy Sulistiyorini, dan mahasiswa program pendidikan profesi dokter Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Betta Mega Oktaviana.
Adapun sumber pendanaan utama penelitian ini adalah dana hibah penelitian dosen pemula (PDP) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tahun anggaran 2024. Secara akademis, penelitian ini telah terbit pada Journal of Biological Research – Bollettino della Società Italiana di Biologia Sperimentale. Jurnal ini merupakan jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus, Web of Science, Directory of Open Access Jornal, dan beberapa indeks lainnya. (*)



