search

Advetorial

DPRD KaltimSosbang

Gelar Sosbang di Desa Lebahu Ulaq, Begini Pesan Haji Alung

Penulis: Redaksi Presisi
Minggu, 17 Maret 2024 | 317 views
Gelar Sosbang di Desa Lebahu Ulaq, Begini Pesan Haji Alung
Suasana Sosbang Anggota DPRD Kaltim, Muhammad Syahrun di Desa Lebahu Ulaq, Kecamatan Muara Kaman. (Ist)

Kukar, Presisi.co - Anggota DPRD Kaltim, Muhammad Syahrun menggelar sosialisasi wawasan kebangsaan (Sosbang) di Desa Lebahu Ulaq, Kecamatan Muara Kaman pada Minggu, 17 Maret 2024. Dihadapan puluhan warga, Haji Alung sapaan akrab Politisi Golkar ini menyampakan pentingnya menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sebagaimana yang diatur dalam empat pilar kebangsaan. Yakni, Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI.

"Intinya, mencintai NKRI adalah harga mati. Jangan mudah terpengaruh dengan konspirasi-konspirasi yang dilakukan oleh oknum tertentu untuk memecah belah bangsa kita," pesan dia.

Seruan yang sering kali disampaikan sederet pejabat dan politisi ini memang patut dimaknai sebaik mungkin, agar masyarakat tidak mudah terpengaruh dogma pecah belah bangsa.

Untuk diketahui, sosialisasi wawasan kebangsaan yang digelar oleh tiap anggota dewan di Karang Paci merupakan upaya untuk merajut kembali simbol-simbol persatuan di tengah perjuangan untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan.

"Kita sebagai tulang punggung bangsa tentu harus memahami peran masing-masing lewat pemahaman yang sama melalui 4 Pilar Kebangsaan. Tugas kita semua untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan bangsa," ungkapnya. 

Pada kesempatan tersebut, politisi yang akrab disapa Haji Alung itu juga menghadirkan Ahmad Fadillah, sebagai narasumber. Dalam pemaparannya, Ahmad katakan bahwa wawasan kebangsaan yang digelar kali ini memang patut diapresiasi ditengah degradasi moral akan paham liberal dan radikal yang mendoktrin sejumlah masyarakat.

"Makanya pemerintah dan DPRD harus gencar menggelar sosialiasi kebangsaan seperti ini, makanya perlu diapresiasi," sebut dia. 

Ahmad turut mengulas sejarah panjang Pancasila sebagai ideologi bangsa yang diibaratkan olehnya sebagai pondasi utama sebuah gedung.

"Tanpa dasar yang kokoh, bangunan itu pasti akan roboh," kata dia.

"Jadi, Indonesia bukan hanya milik satu golongan saja. Makanya Indonesia disebut sebagai negara kesatuan," tambah dia. (*)

Editor: Yusuf