search

Ekonomi

Dampak Pandemi di SamarindaHairul AnwarUniversitas MulawarmanAndi Harun

Ekonomi Samarinda Masih Terpukul Pandemi, Ini Saran Dosen Universitas Mulawarman

Penulis: Jeri Rahmadani
Rabu, 24 Maret 2021
Ekonomi Samarinda Masih Terpukul Pandemi, Ini Saran Dosen Universitas Mulawarman
Hairul Anwar. (int)

Samarinda, Presisi.co – Dampak pandemi telah mengoyak pertumbuhan beberapa sektor di Kota Tepian dengan cukup dalam. Hal ini disampaikan Wali Kota Samarinda Andi Harun saat membuka musrenbang, Selasa 23 Maret 2021.

Dijelaskan Andi Harun, pertumbuhan ekonomi Samarinda menurun. Dari 4,97 persen pada 2019, pada tahun lalu menjadi minus 1,07 persen. Tingkat pengangguran meningkat. Dari 5,87 persen pada 2019 menjadi 8,25 persen pada 2020. “Kemudian kemiskinan juga meningkat. Dari 4,59 persen pada 2019, menjadi 4,76 persen pada 2020,” papar ketua Gerindra Kaltim itu.

Meski demikian, laju pertumbuhan penduduk meningkat. Dari 1,71 persen pada 2019, menjadi 2,89 persen pada 2020. Indeks pembangunan manusia (IPM) yang mencapai 80,20 persen pada 2019, menjadi 80,11 persen pada 2020. “Inflasi pada 2019 yang semula 1,49 persen menurun di posisi 0,86 persen pada 2020,” urai Andi Harun.

Dosen ekonomi asal Universitas Mulawarman Hairul Anwar mengatakan, kemajuan Samarinda didukung dua hal. Yakni, sektor perdagangan dan jasa. Sebab itu, disebutnya pemkot harus jeli melihat sasaran penyuplaian barang ke daerah-daerah di Kaltim. "Seperti Kukar, Kutim, Bontang, hingga Mahulu," lanjutnya.

Dijelaskan Hairul, naiknya daya beli masyarakat yang berkunjung ke Samarinda juga berkaitan dengan kebersihan sanitasi lingkungan. Terutama di momen pandemi seperti sekarang. Tawaran perdagangan dan jasa, disebutnya perlu menjamin kenyamanan konsumen.

"Karena jika orang nyaman, semakin lama mereka bertahan di Samarinda, semakin tinggi pula daya beli kita. Makanya persoalan banjir juga harus diselesaikan. Ini berpengaruh," paparnya.

Hairul menegaskan, langkah yang bisa diambil pemkot adalah mendorong Pemprov Kaltim memperbaiki akses jalan lintas daerah.

"Kalau sarana transportasi ke daerah-daerah itu bagus, maka arus keluar masuk barang lebih mudah dan murah," terangnya.

Selain itu, pemkot harus berpikir bagaimana pengunjung Samarinda untuk memperpanjang waktu tinggal. "Kita masih tertolong dengan hotel-hotel yang dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan," pungkasnya. (*)

Editor: Rizki