Daerah

Transpuan Hilang Kedai Kopi Datang di Citra Niaga

Penulis: Redaksi Presisi

Potret Kawasan Citra Niaga, Samarinda.

Samarinda, Presisi - Seminggu belakangan ini, penulis ingin bernostalgia. Khususnya ke Citra Niaga, mengulang kembali memori yang terekam semasa kecil bermain sepeda, atau mencari pernak pernik khas Kaltim. Kabarnya saat ini sudah sedikit nyaman, sebelumnya kan agak risih kesana karena banyak transpuan.

Tidak terkejut saya melihat perkembangannya. Wajahnya sedikit berubah, sudah ada beberapa kedai kopi yang buka. Saya mencoba menjelajah satu-persatu kedai kopi disana.

Salah satu kedai katanya yang pertama di Citra Niaga, suasananya asik kebetulan saat itu ada pertunjukan musik sehingga sangat ramai. Penulis mengurungkan niat untuk ngobrol dengan pemiliknya.

Bergeser sedikit ada kedai kopi dekat dengan tempat bersepeda waktu kecil dulu. Ramai sekali, padahal penulis ingin duduk dan sedikit bernostalgia atau sekedar ngobrol dengan yang bekerja disana. Akhirnya saya membeli satu kopi cepat saji lalu mencoba mencari tempat lain.

Berbeda blok, ditengah lorong yang gelap ada lampu yang menyala. Ternyata itu kedai kopi juga. Ada sedikit sentuhan klasik disana, saat dudukpun musik yang diputar dikedai itu lagu keroncong. Saya tau, lagu itu berjudul "Rangkaian Melati" cuma nama penyanyinya lupa. Tidak begitu ramai, katanya mereka kedai tersebut baru buka. Lantas saya bertanya dengan salah satu pemiliknya. "Kenapa memilih buka kedai kopi citra ?"

"Citra saya yakin akan ramai mas, tapi saya tak ingin terlalu modern. Biar tetap ada nuansa "Citra", terangnya.

Obrolan saya sedikit terganggu karena suara palu menghantam kayu tepat dibelakang saya duduk. Iseng bertanya, "dibelakang ngerjain apa ya?"

Si pemilik menjawab "kedai kopi lagi mas, didepan kami mau buka juga, dibelakang ada sekitar empat kedai kopi mau buka. Pokoknya banyak mas".

Saya terkejut mendengarnya, bertanya dalam hati apa yang membuat orang-orang ini "nekat" membuka kedai kopi lagi ? Sayangnya obrolan kami terputus karena si pemilik harus melayani rombongan pesepeda yang datang ke kedainya.

Saya pun beranjak pergi karena jam menunjukan hampir jam 12 malam. Agak parno pulang jam segitu, biasanya sudah ada yang berdiri di pinggir jalan sekitar sana. Tapi ternyata ketakutan saya tidak nyata. Ada yang "mangkal" cuma bisa dhitung jari.

Diperjalanan pulang terbersit dipikiran saya, transpuan sudah perlahan pergi apa karena Citra Niaga sudah "terang" akan kedai kopi yang sudah dan akan buka.

Tidak ada masalah sih dengan menjamurnya kedai disana, kenapa harus kopi ? Jangan-jangan expansi kedai kopi juga akan menggeser kehadiran penjual pernak pernik khas Kaltim disana. Jangan-jangan citra dari "Citra Niaga" akan berubah kedepannya.
Mungkin cuma kegelisahan saya saja.

citra-niagakedai-kopisamarinda

Baca Juga