4.000 Kasus TBC Ditemukan di Samarinda Sepanjang 2025, Dinkes Gencarkan Deteksi Dini
Penulis: Muhammad Riduan
Senin, 13 April 2026 | 57 views
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda, dr Nata Siswanto. (Presisi.co/Riduan)
Samarinda, Presisi.co – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat sekitar 4.000 kasus Tuberkulosis (TBC) ditemukan sepanjang tahun 2025. Angka tersebut merupakan hasil dari upaya skrining yang dilakukan secara masif kepada masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda, dr Nata Siswanto, menjelaskan tingginya angka temuan kasus sejalan dengan intensitas deteksi dini yang terus digencarkan pemerintah.
“Semakin kita intens melakukan deteksi dini, maka kasus yang ditemukan juga akan semakin tinggi,” ujarnya, Senin 13 April 2026.
Ia menyebutkan, sepanjang 2025 jumlah skrining yang dilakukan mencapai sekitar 19.000 hingga 20.000 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 4.000 di antaranya dinyatakan positif TBC.
Meski demikian, dr Nata menegaskan bahwa penemuan kasus secara maksimal menjadi langkah penting untuk menekan angka TBC ke depan. Dengan pengobatan yang tepat dan tuntas, jumlah kasus diharapkan dapat menurun secara bertahap.
Untuk tahun 2026, proses pendataan masih berjalan dan angka final baru akan diketahui pada akhir tahun. Namun, upaya deteksi dini tetap dilanjutkan meski menghadapi sejumlah kendala, terutama terkait efisiensi anggaran.
“Untuk tahun ini kita masih berupaya maksimal, meskipun ada keterbatasan anggaran dibanding tahun-tahun sebelumnya,” jelasnya.
Selain itu, keterbatasan bahan habis pakai (BHP) untuk pemeriksaan juga menjadi tantangan. Ketersediaannya dinilai belum mencukupi untuk kebutuhan sepanjang tahun.
Dinkes Samarinda saat ini berupaya memenuhi kebutuhan tersebut, termasuk melalui dukungan hibah atau bantuan dari pemerintah provinsi maupun pusat.
Di sisi lain, penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang penanggulangan TBC yang tengah dibahas diharapkan dapat memperkuat upaya penanganan penyakit tersebut di Samarinda.
“Penanggulangan TBC tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja, tetapi harus melibatkan semua elemen masyarakat,” tegasnya.