Penulis: Alfito Desta Nurvianto
1 hari yang lalu | 63 views
Evakuasi Orangutan akibat Karhutla di Kalimantan Barat. (Sumber: Istimewa)
KETAPANG, Presisi.co – Sebanyak delapan orangutan Kalimantan dipindahkan ke Hutan Lindung Batu Nyambu, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada 9 Oktober 2026 setelah habitat mereka terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengatakan pemindahan dilakukan untuk memberikan kesempatan kepada orangutan kembali hidup di habitat alami yang dinilai lebih aman dari ancaman kebakaran.
Delapan orangutan tersebut terdiri atas tiga pasangan induk dan anak serta dua orangutan jantan remaja. Mereka sebelumnya diselamatkan dari sejumlah lokasi terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara sepanjang Agustus hingga September 2026.
Salah satu pasangan yang dipindahkan adalah Mama Man dan anaknya, Man. Keduanya dievakuasi dari Desa Tempurukan, Kabupaten Ketapang, pada 3 September 2026 setelah bertahan di perkebunan warga dekat kawasan hutan yang terancam kebakaran.
Sementara itu, Mama Nopi dan anaknya, Nopi, bersama dua orangutan jantan remaja bernama Naufal dan Nopan, diselamatkan dari Desa Pemangkat, Kabupaten Kayong Utara, pada 4 September 2026.
Adapun Mama Lifa dan anaknya, Lifa, dievakuasi dari perkebunan kelapa sawit di Desa Pelang, Kabupaten Ketapang, pada 18 September 2026.
Sebelum dipindahkan, seluruh orangutan menjalani pemeriksaan kesehatan, perawatan medis sesuai kebutuhan, serta observasi di pusat rehabilitasi orangutan milik Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) di Sungai Awan, Ketapang. Mereka dinyatakan sehat dan masih menunjukkan perilaku alami sebagai satwa liar.
Direktur Operasional YIARI, Argitoeranting, menjelaskan Hutan Lindung Batu Nyambu dipilih berdasarkan kajian kesesuaian habitat dan daya dukung ekologis. Kawasan seluas sekitar 23.000 hektare itu memiliki tutupan hutan primer dan sekunder, sumber air, tumbuhan pakan, serta pepohonan yang dapat digunakan orangutan untuk membangun sarang.
“Bahkan di tengah-tengah situasi karhutla ini, lokasi ini masih cukup aman dan tidak pernah terbakar sejauh ini,” ujarnya, seperti dikutip dari ANTARA, Minggu, 11 Oktober 2026.
Proses pemindahan membutuhkan perjalanan sekitar enam jam menggunakan kendaraan darat, dilanjutkan satu jam dengan perahu dan sekitar dua jam berjalan kaki. Pemindahan dilakukan secara bertahap di beberapa titik untuk mengurangi gangguan terhadap satwa.
BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI juga mencatat telah menyelamatkan sedikitnya 46 orangutan terdampak karhutla sejak Agustus hingga 9 Oktober 2026.
Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya merusak tutupan vegetasi, tetapi juga dapat memutus jalur penghubung antarkawasan hutan. Kondisi tersebut berisiko membuat orangutan terisolasi di perkebunan dengan ruang hidup dan sumber makanan terbatas, sekaligus meningkatkan potensi konflik dengan manusia.
Pemindahan ke habitat yang dinilai lebih aman menjadi salah satu langkah penyelamatan. Namun, upaya tersebut perlu diikuti pencegahan kebakaran dan perlindungan kawasan hutan agar orangutan tidak terus kehilangan habitat alaminya. (*)