search

Opini

Muhammad HasbiRupiah Melemah Beban Hidup Masyarakat Opini

Rupiah Melemah, Beban Hidup Masyarakat Meningkat: Saatnya Kenaikan Upah Menjadi Prioritas

Penulis: Opini
58 menit yang lalu | 0 views
Rupiah Melemah, Beban Hidup Masyarakat Meningkat: Saatnya Kenaikan Upah Menjadi Prioritas
Muhammad Hasbi Fouder ruanggerak.id

Samarinda, Presisi.co -  Pelemahan nilai tukar rupiah harus menjadi perhatian lebih, karena masyarakat yang berpenghasilan tetap menjadi kelompok yang sangat rentan karena pendapatan tidak selalu bergerak sejalan dengan kenaikan biaya hidup.

Sejumlah analisis ekonomi menunjukkan bahwa pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan inflasi impor, terutama terhadap barang dan bahan baku yang masih bergantung pada impor. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat membuat biaya kebutuhan masyarakat semakin berat.

Di sisi lain, masyarakat juga menghadapi berbagai kewajiban pajak dan biaya hidup yang terus harus dipenuhi. Karena itu, kebijakan ekonomi tidak cukup hanya berfokus pada peningkatan penerimaan negara. 

Keseimbangan antara penerimaan negara, perlindungan masyarakat, dan peningkatan pendapatan pekerja harus menjadi perhatian utama, Gaji Harus Mengikuti Kenaikan Biaya Hidup

Pelemahan rupiah tidak boleh hanya dilihat sebagai persoalan angka di pasar valuta asing. Dampaknya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui harga kebutuhan sehari-hari, transportasi, energi, hingga biaya produksi.

Jika biaya hidup meningkat sementara gaji tetap, maka kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan semakin menurun. Kondisi ini juga dapat melemahkan konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penggerak penting perekonomian nasional.

Karena itu, pemerintah perlu mendorong penyesuaian upah yang lebih berpihak kepada pekerja, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah.

Kenaikan upah bukan semata-mata soal menambah penghasilan pekerja, tetapi juga merupakan upaya menjaga daya beli masyarakat agar roda ekonomi tetap berjalan, Pajak dan Upah Harus Berjalan Seimbang

Pajak merupakan sumber penting bagi negara untuk membiayai pembangunan dan pelayanan publik. Namun, peningkatan penerimaan negara harus diiringi dengan kebijakan yang memastikan masyarakat memiliki kemampuan ekonomi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pemerintah sendiri telah menyatakan bahwa kebijakan perpajakan dan berbagai insentif diarahkan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Maka, ketika beban ekonomi masyarakat meningkat, perlu ada langkah konkret berupa penguatan perlindungan sosial, pengendalian harga kebutuhan pokok, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan pendapatan pekerja.

Jangan Biarkan Masyarakat Bekerja Lebih Keras tetapi Semakin Sulit Hidup

Masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pertumbuhan ekonomi benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti banyak apabila masyarakat masih kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, membayar cicilan, biaya pendidikan, kesehatan, transportasi, dan kebutuhan keluarga.

Karena itu, pemerintah, pengusaha, dan seluruh pemangku kepentingan perlu duduk bersama mencari formula kebijakan upah yang mampu mengikuti perkembangan biaya hidup tanpa membebani dunia usaha secara berlebihan.

Rupiah boleh menghadapi tekanan, tetapi jangan sampai daya beli rakyat ikut jatuh. Pajak boleh menjadi sumber penerimaan negara, tetapi kesejahteraan masyarakat harus tetap menjadi tujuan utama.

Sudah saatnya kebijakan ekonomi tidak hanya menghitung berapa besar penerimaan negara, tetapi juga menghitung berapa besar kemampuan rakyat untuk tetap hidup layak.

Masyarakat membutuhkan harga yang terjangkau, pekerjaan yang aman, dan penghasilan yang layak. Jika biaya hidup naik, maka pendapatan masyarakat juga harus mendapatkan perhatian serius.

Penulis

Muhammad Hasbi Fouder ruanggerak.id


Catatan Redaksi:

Opini ini adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi Presisi.co