Novan Sebut Persepsi Sekolah Favorit Dipengaruhi Ketimpangan Fasilitas
Penulis: Presisi 1
Rabu, 15 Juli 2026 | 0 views
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie.
SAMARINDA, Presisi.co – Anggapan mengenai adanya "sekolah favorit" di Samarinda kembali menjadi perhatian DPRD Samarinda. Persepsi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi keputusan orang tua dalam memilih sekolah bagi anaknya saat proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Mohammad Novan Syahronny Pasie, menegaskan bahwa seluruh sekolah negeri pada dasarnya menerapkan kurikulum yang sama sesuai ketentuan nasional.
"Secara sistem, kurikulum di setiap sekolah negeri itu sama dan berlaku secara nasional," ujarnya, Rabu (15/7/2026).
Menurut Novan, anggapan mengenai sekolah favorit lebih dipengaruhi oleh belum meratanya fasilitas pendidikan di setiap sekolah. Perbedaan sarana dan prasarana itu kemudian memunculkan persepsi adanya perbedaan kualitas antarsekolah.
Ia mencontohkan, masih terdapat sekolah yang belum memiliki fasilitas pendukung seperti lapangan olahraga maupun laboratorium. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk melakukan pemerataan secara bertahap.
Namun demikian, Novan mengakui upaya tersebut menghadapi tantangan keterbatasan anggaran. Pasalnya, pemerintah harus membagi alokasi APBD untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur di 164 sekolah dasar negeri dan 50 sekolah menengah pertama negeri di Samarinda.
"Perbedaan fasilitas itu yang kemudian memunculkan anggapan adanya sekolah dengan grade tertentu," katanya.
Meski demikian, Komisi IV DPRD Samarinda terus mendorong peningkatan mutu pendidikan secara menyeluruh, baik dari sisi sarana dan prasarana maupun kualitas tenaga pendidik.
Novan juga mengimbau masyarakat agar tidak ragu melaporkan apabila menemukan guru yang tidak disiplin dalam menjalankan tugas. Menurutnya, setiap sekolah telah memiliki pengawas yang dapat berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda untuk menindaklanjuti laporan tersebut.
Ia menegaskan, peningkatan kualitas pendidikan tidak hanya bergantung pada kelengkapan fasilitas, tetapi juga profesionalisme tenaga pendidik dalam memberikan layanan pembelajaran kepada siswa.
"Jangan sampai keterbatasan fasilitas juga diikuti dengan menurunnya kualitas pengajaran," tutupnya. (adv)