Bagaimana Bersaing Ketat dengan AI Demi Masa Depan Pekerjaan di Dunia Nyata
Penulis: Redaksi Presisi
Selasa, 07 April 2026 | 41 views
Ilustrasi kecerdasan buatan (AI). (freepik.com)
JAKARTA, Presisi.co - Lonjakan penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di Indonesia kian tak terbendung. Di satu sisi, teknologi ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas pekerja secara signifikan. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran akan dampaknya terhadap masa depan lapangan kerja.
Berdasarkan hasil survei global yang juga melibatkan responden dari Indonesia, tingkat adopsi AI di dunia kerja menunjukkan tren meningkat. Sekitar 69 persen pekerja di Indonesia tercatat telah menggunakan AI dalam 12 bulan terakhir, meskipun penggunaan intensif harian masih tergolong rendah.
Fenomena ini menandakan bahwa AI bukan lagi sekadar teknologi tambahan, melainkan mulai menjadi bagian dari sistem kerja di berbagai sektor industri.
Produktivitas naik, gaji terdongkrak
Di tengah kekhawatiran yang berkembang, data justru menunjukkan dampak positif yang cukup kuat dari penggunaan AI. Mayoritas pekerja yang menggunakan AI secara rutin mengaku mengalami peningkatan kinerja hingga kompensasi.
Dalam laporan resmi PwC Indonesia, disebutkan bahwa hampir seluruh pengguna aktif AI merasakan manfaat langsung dalam pekerjaan mereka.
“Pekerja yang memakai AI setiap hari sudah mulai merasakan manfaatnya, mereka jadi lebih produktif, merasa lebih aman dengan pekerjaannya, dan mendapatkan penghasilan yang lebih baik,” ujar Pete Brown, Global Workforce Leader PwC dalam laporan PwC’s Global Workforce Hopes and Fears Survey 2025, pekan lalu.
Data yang sama juga mencatat, sebanyak 96 persen pengguna harian AI di Indonesia mengalami peningkatan produktivitas, sementara 72 persen mengaku mendapatkan kenaikan pendapatan.
Hal ini memperkuat anggapan bahwa AI dapat menjadi alat strategis untuk meningkatkan efisiensi kerja sekaligus kesejahteraan tenaga kerja.
AI tidak menghapus pekerjaan, melainkan mengubahnya
Meski kerap dikaitkan dengan ancaman pengangguran, sejumlah riset justru menunjukkan bahwa AI tidak serta-merta menghilangkan pekerjaan, melainkan mengubah struktur dan kebutuhan tenaga kerja. Laporan PwC Global AI Jobs Barometer 2025 menemukan bahwa jumlah pekerjaan justru tetap tumbuh, bahkan di sektor yang terdampak otomatisasi.
“AI membuat pekerja lebih bernilai, lebih produktif, dan mampu mendapatkan gaji yang lebih tinggi, dengan jumlah pekerjaan yang terus meningkat bahkan di bidang yang dianggap paling mudah diotomatisasi,” ungkap laporan PwC 2025 Global AI Jobs Barometer.
Namun demikian, perubahan ini menuntut adanya penyesuaian besar, terutama dalam hal keterampilan. Kebutuhan skill baru berkembang jauh lebih cepat dibanding sebelumnya, sehingga pekerja dituntut untuk terus beradaptasi.
Ancaman nyata; kesenjangan skill dan ketimpangan
Di balik potensi besar yang ditawarkan, AI juga membawa tantangan serius. Salah satunya adalah kesenjangan keterampilan (skill gap) yang semakin lebar.
Tidak semua pekerja memiliki akses yang sama terhadap pelatihan atau kemampuan untuk beradaptasi dengan teknologi baru. Kondisi ini berpotensi menciptakan ketimpangan baru di dunia kerja.
Selain itu, sejumlah pihak juga mengingatkan bahwa tanpa strategi yang tepat, AI dapat menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin yang selama ini banyak menyerap tenaga kerja.
Sejumlah perusahaan global bahkan mulai mengurangi peran manusia dalam beberapa lini pekerjaan dan menggantinya dengan sistem berbasis AI, meski tren ini masih terus diperdebatkan.
Penentu masa depan; adaptasi atau tertinggal
Para ahli menilai, kunci utama dalam menghadapi disrupsi AI bukanlah menolak teknologi, melainkan beradaptasi dengannya. Dalam laporan PwC, disebutkan bahwa perubahan ini akan menentukan arah masa depan dunia kerja, apakah AI akan menjadi motor pertumbuhan atau justru memperlebar kesenjangan.
“Keberhasilan dalam hal ini akan menentukan apakah GenAI menjadi mesin pertumbuhan dan inklusi yang sesungguhnya, atau hanya peluang yang terlewatkan,” lanjut Pete Brown dalam pernyataan resmi PwC.
Lonjakan penggunaan AI di Indonesia menjadi pisau bermata dua. Di satu sisi membuka peluang besar untuk meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan pekerja, namun di sisi lain menghadirkan ancaman nyata bagi mereka yang tidak siap beradaptasi.
Di tengah transformasi yang berlangsung cepat, satu hal menjadi jelas, masa depan pekerjaan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang paling siap berubah. (*/Novia)