Penulis: Umar Daud Muhammad
TENGGARONG, Presisi.co — Kebijakan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) yang memusatkan aktivitas pasar takjil ke kawasan Tangga Arung Square (TAS) mendapat sambutan positif dari legislatif. Ketua DPRD Kukar, Ahmad Yani, menilai langkah ini sebagai strategi cerdas untuk menata estetika kota sekaligus mendorong perputaran ekonomi lokal.
Relokasi ini menyatukan para pelaku usaha yang sebelumnya tersebar di berbagai titik jalan protokol menjadi satu sentra perbelanjaan terpadu.
"Saya rasa ini sudah tepat, karena Tangga Arung Square memang didesain sebagai kawasan pasar. Ini langkah maju bagi Kutai Kartanegara untuk menata aktivitas pedagang yang kerap memenuhi pinggir jalan," ujar Ahmad Yani, Kamis, 20 Februari 2026.
Selama ini, kemunculan pasar tumpah di bahu-bahu jalan utama Tenggarong setiap bulan suci sering kali memicu kemacetan parah dan mengganggu ketertiban umum. Ahmad Yani menegaskan bahwa menjadikan TAS sebagai pusat usaha adalah solusi paling efektif saat ini.
"Berjualan di pinggir jalan itu kurang pas karena mengganggu arus lalu lintas dan ketertiban. Dengan dipusatkan di TAS, semua jadi lebih tertata. Mudah-mudahan ini berjalan sesuai harapan," imbuhnya.
Menanggapi kekhawatiran mengenai persaingan antar-pedagang, Ahmad Yani memastikan keberadaan Pasar Ramadan di TAS tidak akan mematikan aktivitas pasar tradisional lainnya. Berdasarkan data pemetaan wilayah, lokasi TAS terbilang strategis dan memiliki jarak yang cukup dari pusat pasar yang sudah ada.
"Justru tidak mematikan pasar lain. Lokasinya berjauhan, sehingga masing-masing punya pangsa pasarnya sendiri," tutur politisi tersebut.
Melihat potensi besar dari relokasi Pasar Ramadan Tenggarong ini, Ahmad Yani memastikan pihak DPRD akan terus mendorong agar kegiatan serupa rutin digelar di TAS setiap tahun. Bahkan, ia mengusulkan agar jam operasional diperpanjang untuk memberikan ruang lebih bagi UMKM.
"Harapannya kegiatan ini dilestarikan setiap tahun. Jika memungkinkan, jam operasional jangan hanya sampai Magrib saja, tapi bisa diperpanjang hingga selesai waktu Tarawih agar perputaran ekonomi lebih maksimal," pungkasnya.
Pemindahan lokasi ini diharapkan menjadi titik awal transformasi Tenggarong menuju kota yang lebih tertata tanpa mengesampingkan pemberdayaan ekonomi masyarakat menengah ke bawah. (*)
Editor: Redaksi




