Healing ke Teras Samarinda, Pengunjung Bisa Parkir di Teluk Lerong Space
Penulis: Muhammad Riduan
2 jam yang lalu | 0 views
Kawasan Teluk Lerong Space di Teras Samarinda. (Presisi.co Muhammad Riduan)
Samarinda, Presisi.co — Kehadiran Teluk Lerong Space di kawasan Teras Samarinda dinilai efektif menata parkir sekaligus menekan aktivitas juru parkir liar yang sebelumnya kerap muncul di sekitar area tersebut.
Direktur Utama Perumda Varia Niaga Samarinda Syamsuddin Hamade mengatakan, sebelum TLS beroperasi, banyak pengunjung memarkir kendaraan di luar area resmi. Dampaknya, aktivitas ekonomi terjadi di luar kawasan, sementara sampah justru menumpuk di Teras Samarinda.
"Parkiran kami sepi, parkir di luar ramai, belanja di luar, makanannya dibawa ke Teras. Sampahnya dibuang di Teras, kita yang pusing," ujar Syamsuddin, Selasa 10 Februari 2026.
Menurutnya, kondisi itu mendorong pengelola menghadirkan konsep ruang publik yang lebih menarik agar masyarakat mau menggunakan fasilitas parkir resmi. Hasil evaluasi menunjukkan area parkir sebelumnya kurang diminati karena minim fasilitas pendukung.
Sebagai langkah awal, Varia Niaga menghadirkan konsep food truck. Respons masyarakat dinilai tinggi hingga akhirnya dikembangkan menjadi Teluk Lerong Space dengan memanfaatkan sebagian lahan eks SPBU yang direhabilitasi secara bertahap.
"Space yang kita ambil tidak banyak, kita hitung betul okupansinya. Kalau tempat duduk penuh, parkiran juga penuh. Itu sudah kita perhitungkan," jelasnya.
Ia menyebut TLS kini menjadi salah satu titik keramaian baru di Samarinda. Pengunjung tidak hanya berasal dari dalam kota, tetapi juga dari Kutai Kartanegara dan Balikpapan.
Pada sore hari, warga datang menikmati pemandangan matahari terbenam di tepian Sungai Mahakam. Setelah magrib, kawasan kembali ramai oleh pengunjung yang ingin melihat panorama Jembatan Mahakam.
"Orang datang ke Teras Samarinda sekarang bukan cuma nongkrong, tapi juga healing. Mau lihat sunset, habis magrib datang lagi mau lihat jembatan," katanya.
Syamsuddin menegaskan, pengelolaan Teras Samarinda dilakukan secara mandiri tanpa dukungan APBD sehingga seluruh unit usaha harus dikelola profesional agar tetap berkelanjutan.
"Ini murni mandiri, tidak pakai APBD. Mau tidak mau unit bisnisnya harus hidup," ujarnya.
Selain itu, pihaknya melakukan kurasi ketat terhadap pelaku UMKM yang beroperasi di TLS dengan mempertimbangkan kualitas produk, higienitas, dan kekuatan komunitas.
"Pak wali minta UMKM itu naik kelas. Jadi kita pilih yang produknya bagus, higienis, dan punya komunitas. Begitu mereka buka, langsung ramai," jelasnya.
Saat ini jumlah food truck dibatasi hanya empat unit. Ke depan, area sekitar TLS juga direncanakan dikembangkan menjadi wahana hiburan bertajuk Sky Air. (*)