Ekonomi Kaltim 2026 Bertumpu pada Industri dan IKN, Risiko Global Tetap Membayangi
Penulis: Akmal Fadhil
1 jam yang lalu | 0 views
Potret IKN yang menjadi tumpuan Ekonomi Kaltim. (Istimewa).
Samarinda, Presisi.co -Perekonomian Kalimantan Timur diproyeksikan melanjutkan tren pertumbuhan pada 2026, dengan penopang utama berasal dari sektor industri pengolahan dan pembangunan infrastruktur.
Namun, dinamika ekonomi global yang belum stabil diperkirakan masih menjadi faktor penekan kinerja sejumlah sektor unggulan daerah.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Timur, Bayuadi Hardiyanto, menyampaikan bahwa ekspansi kapasitas kilang menjadi salah satu pendorong penguatan industri pengolahan di daerah.
Penambahan fasilitas refinery dinilai mampu meningkatkan nilai tambah sekaligus menjaga kontribusi sektor tersebut terhadap pertumbuhan ekonomi regional.
Di sisi lain, sektor konstruksi diperkirakan tetap menunjukkan kinerja solid seiring berlanjutnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Fokus pembangunan pada 2026 diarahkan pada pengembangan kawasan dan ekosistem legislatif serta yudikatif.
“Alokasi anggaran pembangunan ekosistem legislatif dan yudikatif IKN pada 2026 diperkirakan meningkat sekitar enam persen dibandingkan tahun sebelumnya,” kata Bayuadi dalam Peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia (LPI) 2025 dan Forum Group Discussion (FGD) Perekonomian Kaltim di Kantor BI Kaltim, Rabu 28 Januari 2026.
Dari sektor pertanian, Bank Indonesia mencatat adanya peningkatan target Optimalisasi Lahan (oplah) dan pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) pada 2026.
Langkah ini diambil untuk mengejar ketertinggalan realisasi oplah pada 2025 yang tertunda akibat keterbatasan anggaran. Tahun depan, luas oplah ditargetkan mencapai sekitar 3.000 hektar.
Meski demikian, Bayuadi mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu diantisipasi. Pada sektor pertambangan, permintaan batu bara global diperkirakan melemah, terutama dari Tiongkok yang diproyeksikan turun sekitar 1,49 persen secara tahunan.
Penurunan ini sejalan dengan berlanjutnya kebijakan transisi energi di sejumlah negara mitra dagang.
Sementara itu, sektor pertanian juga dihadapkan pada tantangan cuaca. Prakiraan fenomena La Nina pada 2026 berpotensi memicu curah hujan tinggi, yang dapat berdampak pada produktivitas.
Selain itu, peningkatan aktivitas peremajaan tanaman sawit pada akhir 2025 diperkirakan turut menekan produksi Tandan Buah Segar (TBS).
Dari sisi stabilitas harga, Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Kalimantan Timur pada 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5 persen.
Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau diperkirakan masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di daerah.
Secara nasional, komoditas emas perhiasan tercatat sebagai faktor utama pendorong inflasi tahunan. Kenaikan harga emas dunia serta meningkatnya permintaan dinilai menjadi pemicu utama tren tersebut.
“Meski terdapat tekanan, khususnya dari komoditas pangan yang bergejolak dan harga global, inflasi Kaltim pada 2026 diperkirakan tetap berada dalam koridor sasaran,” ujarnya.
Bayuadi menambahkan, ketidakpastian ekonomi global masih menjadi tantangan tersendiri bagi pengendalian inflasi daerah, terutama terkait fluktuasi harga emas dan energi, termasuk bahan bakar. (*)