search

Daerah

Makna RezekiCerita HidupKisah PemulungTenggarongTumpukan Sampah

Belajar Makna Rezeki dari Nenek Is, Pemulung Tangguh yang Berjuang dari Tumpukan Sampah

Penulis: Redaksi Presisi
Selasa, 11 November 2025 | 673 views
Belajar Makna Rezeki dari Nenek Is, Pemulung Tangguh yang Berjuang dari Tumpukan Sampah
Tangkapan layar video presisi.co saat bertemu dengan Nenek Is di Tenggarong. (Dok.Presisi.co)

Tenggarong, Presisi.co — Hujan turun nyaris tanpa jeda sejak siang hingga sore di pusat Kota Tenggarong, Selasa 4 November 2025. Mendung menggantung rendah, air menggenang di sejumlah ruas jalan utama. Di tengah rinai yang tak kunjung reda, seorang perempuan paruh baya tampak mendorong gerobak besi tua berisi tumpukan sampah plastik.

Perempuan itu dikenal dengan sapaan Nenek Is, warga Jalan Imam Bonjol, Gang 2, RT 8, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong. Ia sehari-hari bekerja sebagai pemungut sampah plastik dan barang bekas untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama anak, menantu, dan tiga cucunya.

Sore itu, Nenek Is berhenti di bahu Jalan Jenderal Ahmad Yani, tepat di depan sebuah warung sederhana. Ia menurunkan kantong kresek hitam berisi dua gelas es teh dan beberapa tusuk salome. Di sela hujan yang mulai reda, ia duduk di bangku kayu depan warung sambil menawarkan minum pada siapa pun yang lewat.

“Mari minum es dan makan salome, Om. Aku kalau lapar makan di mana saja, yang penting ada,” ucapnya.

Meski wajahnya tampak letih, senyum itu tidak pernah benar-benar hilang. Tangan keriputnya menggenggam gelas plastik yang berembun dingin, sementara matanya sesekali menerawang ke jalan, memandangi kendaraan yang melintas.

Ditemui seusai beristirahat, Nenek Is menuturkan kisah hidupnya dengan tenang. Ia mengaku lahir dan besar di Jawa Tengah, lalu merantau ke Samarinda pada awal 1980-an. Di kota itu, ia bekerja di sebuah panti jompo hingga akhirnya bertemu dengan Usman, pria yang kemudian menjadi suaminya.

Mereka menikah dan dikaruniai enam anak. Beberapa tahun kemudian, pasangan ini memutuskan pindah ke Tenggarong untuk mencari kehidupan yang lebih tenang. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, suaminya meninggal dunia beberapa tahun lalu, meninggalkan tanggung jawab besar di pundaknya.

“Waktu bapak meninggal, rasanya seperti hilang pegangan. Tapi hidup harus jalan terus. Anak dan cucu masih perlu makan,” katanya lirih.

Setiap pagi sekitar pukul 06.00 WITA, Nenek Is berangkat dari rumah dengan mendorong gerobak menuju beberapa tempat penampungan sementara (TPS) dan area pasar. Ia mengumpulkan plastik botol, kardus, kertas, hingga logam ringan. Setelah istirahat sejenak di rumah sekitar pukul 11.30 WITA, ia kembali berkeliling hingga menjelang malam.

Harga jual barang bekas yang dikumpulkannya bervariasi. Mulai dari plastik dan kertas sekitar Rp1.000 per kilogram, aluminium Rp13.000, sementara tembaga yang jarang didapat bernilai paling tinggi.

“Intinya uang halal. Mau capek, mau hujan, nggak apa-apa. Yang penting rezeki bersih,” ujarnya mantap.

Ada satu hal kecil yang membuatnya terus bersemangat. Ia pernah melihat iklan undian di televisi tentang hadiah mobil dari tutup botol minuman. Sejak saat itu, ia tak pernah membuang satu pun tutupan botol yang ditemukannya di jalan.

“Saya ingin sekali menang hadiah mobil dari tutupan botol. Tapi belum pernah dapat. Ya, namanya juga mimpi,” katanya sambil tertawa kecil.

Sore itu, setelah hujan benar-benar berhenti, Nenek Is kembali mendorong gerobaknya menuju toko swalayan di sekitar Jalan Imam Bonjol. Ia berhenti di depan tempat sampah, mengais beberapa botol bekas yang dibuang orang. Di seberang jalan, beberapa pegawai berseragam menikmati kopi tanpa menoleh sedikit pun.

Pertemuan dengan Nenek Is menjadi potret kecil keteguhan di tengah kerasnya hidup perkotaan. Di usia senja, ia masih menapaki jalan basah, menolak menyerah pada keadaan. Di antara tumpukan sampah yang dikumpulkannya, tersimpan nilai yang jauh lebih besar tentang martabat, kerja keras, dan keyakinan bahwa rezeki yang halal selalu punya jalan. (*)

Editor: Redaksi