search

Berita

Ulap DoyoWarisan BudayaKain ModernTenggarongRumah ProduksiPoktant Takaq

Pengrajin Ulap Doyo di Kukar Tetap Bertahan Jaga Warisan Budaya di Tengah Gempuran Kain Modern

Penulis: Umar Daud Muhammad
1 jam yang lalu | 0 views
Pengrajin Ulap Doyo di Kukar Tetap Bertahan Jaga Warisan Budaya di Tengah Gempuran Kain Modern
Rojiki, salah satu pengrajin Ulap Doyo yang saat ini masih bertahan melestarikan budaya. (Presisi.co/Daud)

Tenggarong, Presisi.co – Di tengah maraknya produksi kain modern di era digitalisasi, eksistensi kain tradisional mulai tergerus. Namun, hal itu tidak menyurutkan langkah Imam Rojiki, pengrajin yang konsisten mempertahankan pembuatan kain tenun Ulap Doyo di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Pintal demi pintal benang Ulap Doyo yang berasal dari serat daun alami menjadi bagian dari keseharian Rojiki. Meski melelahkan, ia tetap melanjutkan tradisi turun-temurun yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam keluarga suku Kutai.

Rojiki yang juga merupakan pemilik rumah produksi Poktant Takaq menjelaskan, proses pembuatan kain Ulap Doyo tidaklah sederhana. Tahapannya panjang, mulai dari mencuci, mengeruk, mengelupas serat, pengeringan, hingga proses pemintalan.

“Proses pemintalan saja butuh tiga hari untuk mendapat satu bola benang. Untuk menenun kain butuh dua setengah bola. Artinya untuk jadi satu kain memerlukan waktu 6 hingga 7 hari,” ujarnya saat ditemui, Sabtu 28 Maret 2026.

Ia mengaku telah menekuni kerajinan ini sejak kecil sebagai generasi ketiga pengrajin dalam keluarganya. Baginya, kemampuan tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan sejak lahir.

“Saya sendiri menekuni sejak masih anak-anak, istilahnya begitu lahir sudah memiliki bakat. Karena ini sudah turun temurun dari orang tua,” tuturnya.

Meski berasal dari daerah, karya Ulap Doyo miliknya telah menembus pasar internasional. Sejumlah negara seperti Jerman dan Australia disebut pernah menjadi tujuan pemasaran produknya.

Namun demikian, keterbatasan produksi membuatnya belum mampu memenuhi permintaan dalam jumlah besar.

“Bahkan tadinya ada pembeli dari Jerman hendak bekerja sama, tetapi untuk saat ini kami belum bisa menyanggupi permintaan mereka,” ungkapnya.

Di sisi lain, tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal produksi, tetapi juga ketersediaan bahan baku. Habitat tanaman Ulap Doyo di wilayah hutan Kutai Kartanegara mulai berkurang, sehingga berdampak pada keberlanjutan produksi.

Kondisi tersebut menjadi perhatian serius bagi para pengrajin, mengingat kain Ulap Doyo merupakan bagian penting dari warisan budaya suku Kutai yang perlu terus dilestarikan. (*)

Editor: Redaksi