Marnabas Beberkan Siasat Pemkot Samarinda Agar Pasar Pagi Bebas dari Tempias
Penulis: Muhammad Riduan
3 jam yang lalu | 0 views
Asisten II Setkot Samarinda, Marnabas Patiroy. (Presisi.co/Muhammad Riduan)
Samarinda, Presisi.co — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyiapkan langkah penanganan terkait masalah tempias air hujan yang masuk ke dalam bangunan Pasar Pagi saat intensitas hujan tinggi. Perbaikan tersebut ditargetkan mulai dikerjakan dalam waktu dekat dan rampung pada 2026.
Asisten II Setkot Samarinda, Marnabas Patiroy mengatakan bahwa pihaknya telah melakukan program penanganan masalah ini, dengan rencana pada bulan ini sudah mulai dilaksanakan.
“Sudah kita programkan. Mungkin dalam bulan ini sudah terpasang itu,” ucapnya saat diwawancarai Presisi.co di Berambai, Rabu 11 Februari 2026.
Ia menjelaskan, sejak awal desain bangunan pasar sudah mempertimbangkan aspek sirkulasi udara. Pasalnya, Pasar Pagi merupakan pasar rakyat yang tidak menggunakan pendingin ruangan (AC), sehingga aliran udara alami harus tetap terjaga.
“Kalau kita tutup total, maka akses udara yang masuk akan berkurang. Itu kan pasar rakyat, enggak ada AC-nya. Jadi dulu kita minta ahli untuk kaji sirkulasinya,” jelasnya.
Menurut Marnabas, selama dua tahun sejak dibangun, persoalan tempias tidak pernah terjadi. Namun perubahan pola cuaca belakangan ini menyebabkan hujan dengan arah dan intensitas yang berbeda.
“Dua tahun dibangun enggak pernah begitu. Sekarang cuacanya beda, anomali, kadang deras sekali,” katanya.
Sebagai solusi, Pemkot Samarinda berencana memasang sistem penutup tambahan di area yang berpotensi terdampak tempias. Sistem tersebut akan bersifat fleksibel dan dapat dibuka-tutup menyesuaikan kondisi cuaca.
“Nanti mungkin sistemnya sliding door, bisa dibuka saat tidak hujan dan ditutup saat hujan deras. Tentu akan mengurangi sirkulasi tapi tidak terlalu banyak," terangnya.
Pemasangan akan difokuskan pada lantai atau sisi bangunan yang berpotensi terdampak, termasuk di sisi kiri dan kanan pasar, khususnya area Gang Pandai dan arah Temenggung yang disebut kerap terkena tempias.
“Kalau kirinya saja ditutup, kanannya enggak, nanti kacau. Jadi kiri kanan sekalian. Kadang hujan datang dari kanan, kadang dari kiri,” tegasnya.
Terkait anggaran, Marnabas membeberkan akan memboca opsi melalui Corporate Social Responsibility (CSR), namun ketika tidak bisa maka akan menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026.
“Kalau bisa CSR ya CSR, kalau enggak kita pakai APBD. Tapi target 2026 ini rampung,” pungkasnya.
Pemkot menegaskan persoalan tempias bukanlah hal yang diabaikan, melainkan bagian dari evaluasi berkelanjutan terhadap kondisi bangunan di tengah perubahan cuaca yang dinilai semakin ekstrem. (*)