search

Berita

Nyeri bahu tennis elbowRSJPD Harapan Kitashockwave therapyKeluhan Muskuloskeletal

Gerak Bebas Tanpa Nyeri: Kenali Terapi Shockwave untuk Keluhan Otot dan Sendi hingga Pemulihan Pasca Pacemaker

Penulis: Siaran Pers
56 menit yang lalu | 0 views
Gerak Bebas Tanpa Nyeri: Kenali Terapi Shockwave untuk Keluhan Otot dan Sendi hingga Pemulihan Pasca Pacemaker
Ilustrasi shockwave therapy. (Sumber: Istimewa)

JAKARTA, Presisi.co — Nyeri bahu, tennis elbow, lutut, tumit, hingga punggung dan leher sering dianggap sebagai keluhan biasa. Namun, jika berlangsung terus-menerus, nyeri dapat membatasi gerak dan mengganggu aktivitas sehari-hari. Keluhan serupa juga dapat muncul pada sebagian pasien setelah pemasangan Permanent Pacemaker (PPM) atau alat pacu jantung, terutama berupa rasa tidak nyaman, kekakuan, atau keterbatasan gerak bahu dan lengan.

Salah satu terapi yang dapat menjadi bagian dari program rehabilitasi pada kondisi muskuloskeletal tertentu adalah shockwave therapy. Terapi ini menggunakan gelombang akustik yang diberikan dari permukaan tubuh tanpa sayatan dan tanpa memasukkan alat ke dalam tubuh.

Menurut dr. Kevin Triangto, BMedSc (Hons), Sp.K.F.R(K), Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, penanganan keluhan muskuloskeletal tidak semata-mata berfokus pada menghilangkan rasa nyeri, tetapi juga mengembalikan fungsi tubuh.

“Dalam rehabilitasi, tujuan kita bukan hanya mengurangi nyeri, tetapi membantu pasien kembali bergerak dan melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik sesuai dengan kondisi yang dialaminya,” ujar dr. Kevin.

Bukan Operasi, Dilakukan dari Permukaan Tubuh

Shockwave merupakan terapi noninvasif. Prosedurnya dilakukan dengan menempatkan alat pada area tubuh yang menjadi target terapi, kemudian memberikan gelombang akustik ke jaringan tersebut.

Terapi ini telah digunakan dalam penanganan sejumlah kondisi muskuloskeletal, terutama beberapa gangguan tendon. Dalam program rehabilitasi, shockwave dapat dikombinasikan dengan latihan fisik, edukasi, serta modifikasi aktivitas sesuai kebutuhan pasien.

“Tidak semua keluhan nyeri membutuhkan terapi yang sama. Pemeriksaan terlebih dahulu diperlukan untuk mengetahui sumber masalah dan menentukan apakah shockwave sesuai untuk pasien,” jelas dr. Kevin.

Bisa untuk Berbagai Keluhan Muskuloskeletal

Terapi shockwave dapat dipertimbangkan pada sejumlah keluhan muskuloskeletal, seperti nyeri bahu, tennis elbow, nyeri lutut dan tumit, cedera olahraga, serta nyeri punggung dan leher.

Pada kondisi tertentu, terapi ini menjadi bagian dari pendekatan rehabilitasi untuk membantu mengurangi keluhan dan mendukung pemulihan fungsi.

Salah satu contohnya adalah tennis elbow, kondisi yang dapat menyebabkan nyeri di sekitar siku dan mengganggu aktivitas yang membutuhkan penggunaan tangan secara berulang. Shockwave merupakan salah satu modalitas yang dapat dipertimbangkan setelah diagnosis dan kondisi pasien dievaluasi oleh dokter.

Setelah Pasang Pacemaker, Bahu dan Lengan Juga Perlu Diperhatikan

Pemulihan pasien tidak selalu berhenti setelah tindakan pemasangan pacemaker selesai. Pada sebagian pasien, terutama pada sisi tempat alat dipasang, dapat muncul rasa tidak nyaman, kekakuan, nyeri, atau keterbatasan gerak pada bahu dan lengan.

Keluhan tersebut dapat membuat aktivitas sederhana menjadi kurang nyaman, seperti mengangkat tangan, berpakaian, mengambil barang, atau melakukan pekerjaan sehari-hari.

Menurut dr. Kevin, kondisi tersebut juga perlu menjadi perhatian dalam program rehabilitasi.

“Setelah pemasangan pacemaker, yang perlu diperhatikan bukan hanya kondisi alat dan jantungnya, tetapi juga bagaimana pasien dapat kembali menggunakan bahu dan lengannya secara nyaman dalam aktivitas sehari-hari.”

Pada pasien tertentu, rehabilitasi dapat mencakup latihan gerak, terapi fisik, edukasi aktivitas, hingga penggunaan modalitas tertentu, termasuk shockwave apabila setelah pemeriksaan dokter dinilai sesuai dan aman.

Bukan Pacemakernya yang Diterapi

Hal penting yang perlu dipahami masyarakat adalah shockwave bukan terapi untuk pacemaker dan tidak ditujukan pada alat pacu jantung tersebut.

Pada pasien yang memiliki pacemaker, dokter perlu mengetahui jenis dan lokasi alat yang terpasang sebelum menentukan terapi. Shockwave tidak diarahkan ke area generator pacemaker. Pemilihan lokasi terapi dilakukan berdasarkan evaluasi medis untuk memastikan keamanan pasien.

“Setiap pasien memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, sebelum menentukan terapi, kami perlu mengetahui sumber keluhan, kondisi jaringan, riwayat tindakan yang pernah dilakukan, termasuk keberadaan alat pacu jantung atau alat implan lainnya,” kata dr. Kevin.

Dengan pendekatan tersebut, fokus rehabilitasi pada pasien pasca pemasangan PPM adalah mengatasi masalah muskuloskeletal yang menyertai dan membantu mengembalikan fungsi bahu serta lengan, bukan memberikan terapi terhadap alat pacu jantung.

Tidak Semua Nyeri Harus Ditahan

Nyeri yang muncul setelah aktivitas, olahraga, atau tindakan medis sebaiknya tidak selalu dianggap sebagai kondisi yang harus ditahan.

Jika nyeri mulai mengganggu gerak, pekerjaan, olahraga, tidur, atau aktivitas sehari-hari, pemeriksaan dapat membantu menemukan penyebabnya.

Terlebih bagi pasien pasca pemasangan pacemaker yang mengalami keluhan pada bahu atau lengan, evaluasi dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi dapat membantu menentukan program pemulihan yang tepat.

“Target akhirnya bukan sekadar pasien mengatakan nyerinya berkurang, tetapi pasien dapat kembali melakukan aktivitas dengan fungsi gerak yang lebih baik dan nyaman,” ujar dr. Kevin.

Gerak Lebih Bebas, Kembali Aktif

Perkembangan layanan rehabilitasi memberikan semakin banyak pilihan bagi pasien dengan berbagai keluhan otot, tendon, dan sendi. Shockwave menjadi salah satu modalitas yang dapat dipertimbangkan pada kondisi tertentu, dengan pemilihan terapi berdasarkan diagnosis dan kondisi masing-masing pasien.

Mulai dari nyeri bahu, tennis elbow, lutut, tumit, cedera olahraga, hingga keluhan punggung dan leher, penanganan yang tepat dapat membantu pasien kembali bergerak. Begitu pula pada pasien pasca pemasangan PPM yang mengalami kekakuan atau keterbatasan gerak bahu dan lengan, rehabilitasi dapat membantu proses kembali ke aktivitas sehari-hari.

Intinya, tujuan rehabilitasi bukan hanya menghilangkan nyeri, tetapi mengembalikan fungsi dan kualitas gerak pasien.

Bagi masyarakat yang mengalami keluhan nyeri atau keterbatasan gerak, termasuk pasien setelah pemasangan pacemaker, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui penyebab keluhan dan pilihan terapi yang sesuai.

Konsultasikan Keluhan Anda, Jangan biarkan nyeri atau keterbatasan gerak menghambat aktivitas sehari-hari. Kenali penyebabnya, lakukan evaluasi, dan dapatkan program rehabilitasi yang sesuai dengan kondisi Anda.
📞 Call Center: 1500 034
📱 WhatsApp: 0811 911 5045
📱 Marketing RSJPD Harapan Kita: 0812 9000 4370
🌐 www.pjnhk.go.id
📸 Instagram: @pjn_harapankita

RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita Gerak lebih bebas, kembali aktif, hidup lebih nyaman.