search

Berita

Penderita Penyakit JantungRSJPD Harapan Kitadr. Olfi LelyaDokter Spesialis Jantung

Penderita Penyakit Jantung Tetap Bisa Naik Pesawat, Ini Hal yang Perlu Diperhatikan

Penulis: Siaran Pers
Jumat, 21 Agustus 2026 | 88 views
Penderita Penyakit Jantung Tetap Bisa Naik Pesawat, Ini Hal yang Perlu Diperhatikan
Ilustrasi: Freepik/magnific.com

Jakarta, Presisi.coPenderita penyakit jantung tetap dapat melakukan perjalanan menggunakan pesawat terbang selama kondisi kesehatannya stabil. Namun, perubahan kondisi di dalam kabin pesawat, terutama penurunan kadar oksigen akibat ketinggian, dapat memengaruhi kerja jantung sehingga diperlukan persiapan sebelum bepergian.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita, dr. Olfi Lelya, Sp.JP(K), menjelaskan bahwa setiap penderita penyakit jantung memiliki risiko yang berbeda saat melakukan penerbangan, sehingga penting untuk memahami kondisi masing-masing sebelum bepergian.

Menurut dr. Olfi, pada penderita penyakit jantung koroner yang kondisinya stabil, perjalanan udara umumnya aman dilakukan. Meski demikian, kadar oksigen yang lebih rendah dan peningkatan denyut jantung selama penerbangan dapat memicu nyeri dada menjadi lebih berat. Apabila nyeri dada tidak membaik, disertai keringat dingin atau mual dan muntah, penumpang harus segera menghubungi awak kabin serta mengonsumsi obat yang telah diresepkan dokter.

Sementara itu, penderita gagal jantung tanpa keluhan tetap dapat terbang dengan membawa obat-obatan rutin. Namun, penurunan kadar oksigen di dalam kabin dapat memperberat sesak napas sehingga pasien disarankan memberi tahu petugas apabila membutuhkan bantuan oksigen selama perjalanan.

Pada penderita hipertensi, tekanan darah yang terkontrol bukan merupakan hambatan untuk bepergian menggunakan pesawat. Meski demikian, perubahan ketinggian dapat meningkatkan tekanan darah sehingga pasien perlu memastikan telah membawa dan mengonsumsi obat sesuai anjuran sebelum penerbangan. Hal yang sama juga berlaku bagi penderita gangguan irama jantung, karena kadar oksigen yang rendah dapat memperberat keluhan seperti jantung berdebar, pusing, nyeri kepala, atau sesak napas.

Dr. Olfi juga mengingatkan penumpang dengan riwayat trombosis vena dalam agar mencegah dehidrasi dengan memperbanyak minum air putih, menggunakan stoking khusus bila diperlukan, serta melakukan gerakan kaki selama penerbangan untuk membantu melancarkan sirkulasi darah. Sementara itu, penderita hipertensi paru dianjurkan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter karena sebagian pasien mungkin memerlukan tambahan oksigen saat terbang.

Sebagai rumah sakit rujukan nasional khusus jantung dan pembuluh darah, RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita menyediakan layanan konsultasi, pemeriksaan, hingga penanganan komprehensif bagi berbagai penyakit jantung. Melalui evaluasi kondisi pasien sebelum bepergian, dokter dapat menentukan apakah pasien aman melakukan penerbangan serta memberikan rekomendasi terapi maupun kebutuhan oksigen selama perjalanan.

"Penderita penyakit jantung yang stabil pada umumnya tetap aman melakukan penerbangan. Yang terpenting adalah selalu membawa obat-obatan rutin dan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis sebelum melakukan perjalanan," tutup dr. Olfi. (*)