Kalimantan Timur Menuju Penguatan Kualitas dan Nilai Jual Produk Kelautan dan Perikanan
Penulis: Akmal Fadhil
20 jam yang lalu | 0 views
Ilustrasi. (Sumber: Internet)
Samarinda, Presisi.co – Kalimantan Timur mulai menggeser fokus pembangunan sektor kelautan dan perikanan, dari sekadar peningkatan produksi, kini menuju penguatan kualitas dan nilai jual produk.
Langkah ini diambil seiring kapasitas produksi ikan daerah yang dinilai telah mencukupi kebutuhan konsumsi masyarakat.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Irhan Hukmaidy, menyebut ketersediaan ikan di daerah kini berada pada level aman untuk menopang ketahanan pangan, khususnya sumber protein hewani.
“Dari sisi produksi, baik perikanan tangkap maupun budidaya, kita sudah mampu memenuhi kebutuhan sendiri. Bahkan surplus untuk dipasarkan ke luar daerah,” ujar Irhan, saat dikonfirmasi Kamis 22 Januari 2026.
Menurutnya, kemampuan tersebut menjadi fondasi kuat bagi Kaltim untuk melangkah ke tahap berikutnya, yakni memperkuat daya saing produk perikanan di pasar nasional dan internasional.
Potensi perikanan Kaltim berasal dari wilayah laut maupun perairan darat, dengan komoditas yang beragam, mulai dari ikan konsumsi hasil tangkap hingga komoditas budidaya air tawar dan laut.
Kondisi ini menjadikan sektor perikanan sebagai salah satu penopang utama ketahanan pangan daerah.
Seiring tercapainya kecukupan produksi, DKP Kaltim kini menaruh perhatian besar pada peningkatan nilai tambah.
Strategi hilirisasi yang diterapkan lebih menekankan pada menjaga mutu ikan agar tetap segar dan bernilai tinggi saat sampai ke tangan konsumen.
“Kita tidak masuk ke industri besar seperti pengalengan. Fokus kita bagaimana ikan tetap berkualitas, karena produk ini sangat sensitif dan mudah rusak,” jelas Irhan.
Upaya tersebut diperkuat dengan peningkatan sarana dan prasarana di enam Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), yakni Sambaliung (Berau), Sangatta (Kutai Timur), Tanjung Limau (Bontang), Selili (Samarinda), Manggar Baru (Balikpapan), dan Api-Api (Penajam Paser Utara).
Fasilitas pendukung seperti stasiun pengisian bahan bakar nelayan, pabrik es, cold storage, hingga area pemasaran ikan disiapkan untuk menunjang aktivitas nelayan dan pelaku usaha perikanan.
Dari sisi pemasaran, produk perikanan Kaltim juga menunjukkan perluasan pasar.
Tidak hanya diperdagangkan antar daerah, sejumlah komoditas kini telah diekspor langsung ke berbagai negara.
“Orientasi pasar kita sudah lebih luas. Produk perikanan Kaltim sekarang langsung masuk ke pasar ekspor,” ungkapnya.
Tercatat, sedikitnya 12 negara menjadi tujuan ekspor hasil perikanan Kaltim, di antaranya Vietnam, Amerika Serikat, Inggris, Korea Selatan, Jepang, China, Arab Saudi, Hongkong, Filipina, Malaysia, India, Taiwan, dan Singapura.
Kinerja ekspor sepanjang 2025 pun menunjukkan tren positif. Nilai ekspor perikanan Kaltim mencapai Rp471 miliar, naik 11,3 persen dibandingkan 2024 sebesar Rp423 miliar.
Volume ekspor tercatat 2.872 ton dengan frekuensi pengiriman mencapai 2.300 kali dalam setahun.
Namun, salah satu komoditas unggulan yakni udang mengalami penurunan volume ekspor sebesar 7,8 persen.
Penurunan tersebut dipicu kebijakan negara tujuan, khususnya larangan sementara masuknya produk udang Indonesia ke Amerika Serikat akibat isu kontaminasi radioaktif Cesium 137.
Meski begitu, nilai ekspor udang justru meningkat. Pada 2025, nilai ekspor udang Kaltim mencapai Rp419 miliar, naik dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp404 miliar, seiring pengaruh harga global dan nilai tukar dolar.
“Volume memang turun, tapi nilainya naik karena mengikuti harga internasional dan kurs dolar,” pungkas Irhan.