search

Berita

Rafflesia PriceiTaman Nasional Kayan MentarangEkowisataSPTN Wilayah I Long BawanDesa Pa’ KidangKrayanRafflesia di Krayan

Rafflesia Pricei, Sang Bunga Rahasia yang Justru Bersahabat di Jantung Kayan Mentarang

Penulis: Redaksi Presisi
1 jam yang lalu | 0 views
Rafflesia Pricei, Sang Bunga Rahasia yang Justru Bersahabat di Jantung Kayan Mentarang
Potret Raflessia Pricei yang hidup subur di Taman Nasional Kayan Mentarang. (Dokumentasi TNKM)

Presisi.co - Di banyak tempat di Nusantara, cerita tentang Rafflesia selalu terdengar seperti legenda. Bunga raksasa yang hanya mekar sesekali, jauh di pedalaman, dan hanya bisa dilihat orang-orang yang cukup beruntung untuk sedang berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat.

Namun di Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Kalimantan Utara (Kaltara), mitos itu tidak sepenuhnya berlaku. Di sini, Rafflesia Pricei tampak seperti tetangga lama yang datang sewaktu-waktu, tetap langka, misterius, tapi tidak sulit ditemukan seperti kerabatnya di wilayah lain.

Di Pa’ Kidang, bunga langka itu tumbuh tak jauh dari rumah warga. Desa yang terletak di Krayan Barat itu menjadi salah satu tempat paling unik untuk mengenal Rafflesia. Desa kecil di dataran tinggi ini memiliki jalur wisata ke Buduk Udan, sebuah puncak 1.400 mdpl yang menjadi kebanggaan masyarakat.

Para wisatawan yang pulang dari puncak sering diarahkan menyusuri jalur lain berupa terusan alami yang memotong hutan, dan menjadi rumah tempat Rafflesia Pricei tumbuh.

Di sinilah keunikannya.

Bunga yang di tempat lain menjadi “hadiah keberuntungan” justru tumbuh subur di halaman belakang masyarakat Krayan.

Kadang satu, kadang dua, kadang dalam kelompok kecil, semuanya berada hanya beberapa menit dari pemukiman.

“Tidak pernah ada yang benar-benar tahu kapan ia mekar. Tapi di sini lebih sering kelihatan,” ujar seorang warga lokal yang terlibat dalam tim monitoring.

Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito, mengakui bahwa Rafflesia Pricei tetap tak bisa ditebak.

“Mekarnya tidak dapat diprediksi seperti tumbuhan biasa. Tapi dari hasil monitoring, ia paling sering berbunga sekitar Agustus,” jelasnya.

Namun bukan hanya waktu yang tak menentu. Lokasi kemunculannya pun terbatas.

Hingga kini, Rafflesia Pricei diketahui tumbuh di beberapa wilayah:

  • Long Api
  • Tang Paye
  • Pa’ Kidang
  • Rian Tubu
  • Paliran

Di masing-masing titik itu, tim dari Balai TNKM dan masyarakat bekerja bersama, mencatat siklus kehidupan bunga mulai dari kopula, knop, hingga antesis saat fase ketika kelopak merahnya membuka penuh dan mengumumkan bahwa ia sedang berada pada puncak hidupnya.

Cerita tentang Rafflesia di Krayan

Cerita tentang Rafflesia di Krayan tidak hanya soal bunga langka. Ia juga memuat babak menarik tentang perubahan pengetahuan dan budaya.

Sebelum orang-orang memahami bahwa Rafflesia adalah spesies dilindungi, sebagian masyarakat memanfaatkannya sebagai pakan anjing saat berada di dalam hutan.

Sekarang, peran itu berubah total.

Masyarakat Dayak Lundayeh yang tinggal di sekitar habitatnya justru menjadikan Rafflesia sebagai simbol budaya dan pelestarian.

Motif atau replika bunga itu muncul dalam properti tarian tradisional. Di acara-acara adat, gambar Rafflesia dipakai sebagai ornamen pakaian dan aksesoris.

“Dengan itu, mereka tidak hanya menjaga tradisi, tapi juga menjaga hutan,” ujar Hery Gunawan, Kepala SPTN Wilayah I Long Bawan.

Keberadaan Rafflesia Pricei bukan hanya keberuntungan alam. Ia juga menjadi indikator penting bahwa ekosistem TNKM masih berfungsi dengan baik.

Rafflesia adalah tanaman parasit yang sangat sensitif. Ia bergantung sepenuhnya pada kondisi inangnya, Tetrastigma, tumbuhan merambat yang hanya tumbuh sehat di hutan yang tidak terganggu.

Dengan kata lain, ketika Rafflesia tumbuh, berarti hutannya masih bernapas.

“Rafflesia ini sensitif. Kalau hutannya rusak, ia hilang pertama kali,” kata Hery.

TNKM memang salah satu kawasan konservasi terluas dan terjaga di Indonesia. Hutan-hutannya masih perawan, dilewati kabut tebal, dan menjadi rumah bagi berbagai spesies endemik yang jarang tersentuh modernisasi.

Di Desa Pa’ Kidang, sudah dibentuk kelompok wisata Pa’ Kidang Makmur, yang bekerja sama dengan Balai TNKM untuk mengelola destinasi Buduk Udan dan habitat Rafflesia.

Mereka dilatih untuk memandu wisata, mengenali fase hidup bunga, melakukan monitoring, memberikan edukasi kepada pengunjung termasuk menjaga area dari gangguan.

Selain itu, Balai TNKM menyediakan shelter, papan interpretasi, dan membentuk tim monitoring Rafflesia yang dikawal masyarakat. Tim inilah yang menentukan apakah Rafflesia sedang dalam fase sebelum mekar, siap mekar, atau sedang memasuki masa layu.

Upaya ini memberi warga peran penting, bukan hanya sebagai saksi, tapi juga sebagai penjaga dan penerus pengetahuan.

Rafflesia Pricei, Harapan Baru Ekowisata Kayan Mentarang

Kepala Balai TNKM, Seno Pramudito, berharap Rafflesia Pricei bisa menjadi tulang punggung ekowisata Pa’ Kidang tanpa mengorbankan kelestariannya.

“Kami berharap destinasi ini berkembang dan lestari. Selain meningkatkan pendapatan masyarakat, kami juga ingin memastikan Rafflesia tetap tumbuh alami,” ujarnya.

Ekowisata berbasis konservasi seperti ini menjadi masa depan yang menjanjikan bagi kawasan Krayan yang terpencil, namun kaya potensi.

Bagi banyak wisatawan, melihat Rafflesia mekar adalah mimpi seumur hidup.

Di Krayan, mimpi itu tidak lagi setinggi puncak gunung, cukup berjalan bersama masyarakat, menyusuri jalur setapak, dan membiarkan hutan membisikkan kejutan.

Namun di Taman Nasional Kayan Mentarang, ia bukan bunga yang sulit dicari melainkan bagian dari kehidupan masyarakat. (*)

Editor: Redaksi