Kisah Affan Kurniawan, Hidup sebagai Tulang Punggung Keluarga, Hingga Kedatangan Prabowo di Rumah Duka
Penulis: Akmal Fadhil
7 jam yang lalu | 0 views
Suasana Rumah Duka Saat Dikunjungi Presiden Prabowo Subianto. (istimewa)
Samarinda, Presisi.co — Di sebuah rumah sederhana di kawasan Blora, Menteng, Jakarta Pusat, keluarga Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol), tengah berkabung.
Affan, yang dikenal sebagai tulang punggung keluarga, tewas dalam insiden tragis yang terjadi pada Kamis malam, 28 Agustus 2025, setelah dilindas oleh kendaraan rantis milik Brimob yang terlibat dalam kerusuhan demonstrasi.
Kematian Affan menyisakan luka mendalam, baik untuk keluarga yang kehilangan sosok penghidup, maupun bagi komunitas pengemudi ojol yang merasa dirinya turut terancam.
Dalam kesendirian rumah duka, hanya lampu temaram yang menemani perasaan pilu keluarga Affan.
Ibu Affan, yang terlihat lemas, mengingat kembali perjuangan anaknya yang tidak pernah mengenal lelah.
“Dia (Affan) adalah harapan dan tumpuan ibunya. Tanpa dia, kami tak tahu apa yang akan terjadi,” ujar pemilik kontrakan yang dihuni keluarga Affan, dilansir dari Suara.com
Kisah Hidup yang Berat
Affan Kurniawan bukanlah sosok yang mudah ditemukan di dunia penuh sorotan. Bekerja keras setiap hari sebagai driver ojol, dia mencari nafkah untuk keluarga yang ekonominya pas-pasan.
Di balik keceriaan wajahnya yang sederhana, ada perjuangan tak terlihat yang ia jalani untuk memberi kehidupan yang lebih baik bagi ibunya.
Setiap hari, Affan bertahan melawan kerasnya hidup Jakarta, menghindari kemacetan, dan meraih setiap peluang penghasilan demi menyokong ibu yang selalu mengandalkannya.
Namun, pada malam yang penuh ketegangan itu, jalan nasib membawanya pada sebuah tragedi yang tak terduga.
Sebagai gambaran, jalanan di sekitar rumah duka penuh dengan potongan-potongan berita dan foto dari orang-orang yang mengenal Affan.
Beberapa tetangga menundukkan kepala, tampak enggan untuk berbicara lebih banyak, tapi mereka semua tahu bahwa kepergian Affan meninggalkan ruang kosong yang besar, bukan hanya bagi keluarganya, tapi juga bagi dunia ojol yang mereka jalani bersama.
Presiden Prabowo Hadir di Tengah Duka
Di tengah keheningan itu, pada Jumat malam 29 Agustus 2025 Presiden Prabowo Subianto datang ke rumah duka untuk memberikan dukungan moral kepada keluarga almarhum.
Kedatangannya bukan sekadar formalitas, namun untuk mengungkapkan rasa duka yang mendalam serta menunjukkan perhatian terhadap korban yang meninggal secara tragis.
Presiden Prabowo tiba di rumah duka pada pukul 21.40 WIB. Mengenakan baju safari coklat muda dan peci hitam, langkahnya penuh rasa empati.
Begitu memasuki rumah, ia langsung menemui orang tua Affan yang terlihat sangat terharu.
“Saya sangat prihatin dengan peristiwa ini,” ujar Prabowo kepada kedua orang tua Affan.
Dari video yang beredar, nampak wajah ayah Affan yang sudah tua dan penuh garis kerutan menunjukkan betapa besarnya kehilangan ini.
Sebagai seorang pemimpin, Prabowo tidak hanya memberikan ucapan belasungkawa, namun juga memastikan bahwa kejadian ini mendapat perhatian serius dari aparat dan pemerintah.
“Kami akan mencari keadilan, dan memastikan bahwa peristiwa seperti ini tidak terulang lagi,” tambah Prabowo, dalam pertemuan singkat tersebut.
Kemarahan Masyarakat dan Protes Menyusul
Namun, belasungkawa dan perhatian dari pejabat tinggi tak mampu meredakan kemarahan masyarakat, terutama komunitas pengemudi ojol.
Kejadian ini memicu gelombang protes dari ratusan pengemudi ojol yang merasa bahwa insiden ini merupakan cerminan ketidakadilan.
Mereka menggelar aksi solidaritas, menuntut keadilan bagi Affan dan rekan-rekannya yang selama ini berjuang keras untuk kehidupan mereka.
Dalam beberapa hari terakhir, beredar unggahan-unggahan media sosial yang berisi ungkapan kekecewaan dari masyarakat, dengan beberapa pengguna jasa ojol menulis tentang kerentanan yang mereka rasakan saat bekerja di jalanan, di bawah tekanan dari berbagai pihak.
“Kami bukan hanya membawa penumpang, kami juga membawa harapan keluarga. Kami ingin diakui, bukan menjadi korban dalam situasi yang tak jelas,” tulis seorang pengemudi ojol dalam sebuah unggahan viral.
Pihak keluarga, meski tengah berduka, juga berharap insiden ini diselidiki dengan transparansi penuh. Mereka tak ingin tragedi ini hanya menjadi angka dalam laporan statistik semata.
“Kami berharap ada keadilan. Anak saya berjuang keras untuk hidup, dan tak layak berakhir seperti ini,” ujar ibunda Affan, yang kini tinggal dalam kesendirian.
Kepergian yang Tak Terlupakan
Di dalam rumah duka, suasana penuh haru masih terasa. Tanpa kehadiran Affan, banyak impian keluarga yang kini tergantung.
Sang ibu terlihat terisak, mengingat masa-masa ketika anaknya masih bekerja dengan penuh semangat.
Namun, meskipun air mata mengalir deras, ada satu pesan yang terus bergema: keadilan harus ditegakkan, dan Affan harus dikenang dengan cara yang layak.
Sementara itu, di luar rumah duka, aksi solidaritas semakin meluas. Sejumlah elemen masyarakat menuntut aparat keamanan untuk bertanggung jawab atas insiden ini.
Kematian Affan, yang sebelumnya hanya sekadar angka dalam statistik kecelakaan, kini telah menjadi simbol dari banyak ketidakadilan yang terjadi di masyarakat, serta pertanyaan besar tentang bagaimana seharusnya negara dan aparat merespons peristiwa semacam ini. (*)