search

Opini

Affan KurniawanPengemudi Ojol Ditabrak BrimobMobil Rantis BrimobDemo 28 Agustus 2025Eko Suprihatno

Affan Kurniawan dan Luka yang Ditorehkan Elite Negeri

Penulis: Eko Suprihatno
9 jam yang lalu | 38 views
Affan Kurniawan dan Luka yang Ditorehkan Elite Negeri
Affan Kurniawan. (Istimewa)

Presisi.co - Affan Kurniawan pasti tidak menyangka ketika pesanan makanan yang akan diantar ke customer tak akan pernah sampai. Pengemudi ojek online (ojol) ini terjebak dalam kerumunan massa demonstran. Dia bisa menghindari massa tapi tak bisa menolak takdir ditabrak dan dilindas kendaraan taktis (rantis) Brigade Mobil (Brimob) Polri, yang digunakan untuk memecah konsentrasi massa.

Kamis, 28 Agustus 2025, malam tubuh pemuda berusia 21 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga ini terlindas rantis. Nyawanya meregang di rumah sakit yang sudah pasti meninggalkan duka mendalam, bukan cuma untuk keluarga melainkan juga bagi anak-anak bangsa yang sudah muak dengan keserakahan para petinggi negeri yang diperlihatkan secara telanjang.

Hal yang publik masih ingat ketika muncul fakta tunjangan perumahan setiap anggota DPR Rp50 juta per bulan. Artinya, sebanyak 580 anggota DPR akan mendapat gelontoran anggaran Rp29 miliar per bulan dan kata Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco, akan berakhir Oktober 2025. Mereka sudah mendapatkan tunjangan itu sejak Oktober 2024. Dengan begitu setiap anggota DPR berhak atas Rp600 juta yang dipakai untuk sewa rumah selama 5 tahun.

Bila mengutip Kompas.com gaji yang bisa dibawa pulang anggota DPR nyatanya lebih dari Rp100 juta. Namun bila melihat rincian yang ada, seperti tunjangan beras mencapai Rp12 juta tentu menimbulkan tanda tanya. Apakah memang mereka dan keluarganya sampai menghabiskan Rp12 juta untuk makan?

Belum lagi beragam cerita amis menyangkut perilaku anggota legislatif berbagi proyek pembangunan, yang terkadang berujung dicokok KPK. Apakah dari 580 anggota DPR tergolong berhati setan semua? Jelas tidak. Pasti ada di antara mereka yang berhati malaikat dan sungguh-sungguh memperjuangkan nasib rakyat.

Namun yang perlu diperhatikan ialah bukan sekadar bagaimana gedung legislatif di Senayan, Jakarta itu sebagai tempat bagi-bagi rejeki semata. Mereka adalah pejabat negara yang sudah pasti dalam bertutur harus memahami psikologi masyarakat.

Kita bisa lihat bagaimana ucapan Wakil Ketua Komisi III Ahmad Sahroni, yang menyebut mereka yang menginginkan pembubaran DPR sebagai orang tolol. Belum lagi ketika anggota Fraksi Partai NasDem itu menjadi bulan-bulanan diaspora Salsa Erwina yang menantang berdebat. Entah ada kaitan atau tidak dengan kontroversi pernyataannya, Sahroni kini digeser Partai NasDem menjadi anggota Komisi I.

Sebelumnya Sekjen Partai Amanat Nasional (PAN) Eko Hendro Purnomo dihujat karena aksi jogednya usai sidang tahunan di dalam gedung parlemen, Jumat, 15 Agustus 2025. Kecaman publik tak menyurutkan aksi Eko Patrio, nama bekennya saat di dunia entertain, yang justru mengunggah parodi sebagai disc jockey (DJ) dengan sound horeg.

Apapun sejuta kilah yang dilantunkan, bagi sebagian publik sikap politisi PAN itu dianggap melukai hati. Terlebih saat publik dihadapkan pada daya beli yang lemah, kenaikan pajak di berbagai daerah, dan juga tunjangan selangit anggota DPR.

Sejatinya yang dibutuhkan itu adalah pernyataan-pernyataan yang berempati, bukan malah memprovokasi. Fenomena komunikasi publik, terutama dari kalangan elite, menjadi perhatian masyarakat karena banyak ketidakkonsistenan pesan yang disampaikan dengan kenyataan. Secara umum dikatakan bahwa komunikasi publik yang dilakukan elite mengenai isu tersebut tidak terencana dan tidak terukur, sehingga menimbulkan efek yang tidak diharapkan bahkan merugikan. (Achmad Mucharam, YAI, 2022)

Dengan kata lain, pejabat negara diharapkan tidak asal berkomentar terhadap satu masalah. Pasalnya dampak yang ditimbulkan bisa merugikan banyak pihak. Kuasai dulu masalah, telaah, baru kemudian ungkapkan dengan bahasa yang tidak menambah luka.

Suka tidak suka unjuk rasa yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di sejumlah kota di Indonesia tak lepas dari kegeraman publik, yang disuguhi pernyataan-pernyataan nir empati pejabat publik. Beban masyarakat sudah berat. Janganlah kemudian ditambah dengan pernyataan yang menyakitkan bahkan nir empati.

Peristiwa yang menjadikan Affan Kurniawan perlaya karena dilindas rantis Brimob harus disikapi serius. Bukan cuma berhenti pada 7 anggota Brimob yang ada di dalam rantis tersebut, melainkan bagaimana menyikapi tuntutan publik yang kadung muak dengan perilaku petinggi negeri. Affan dapat menjadi pintu masuk untuk memperbaiki, bukan cuma terhenti pada kata maaf dan kemudian kembali melupakan nurani. (*)

Penulis:

Eko Suprihatno
Pimpinan Redaksi Presisi.co


Catatan Redaksi

Tulisan ini merupakan tajuk rencana resmi Redaksi Presisi.co yang disampaikan oleh Pimpinan Redaksi. Tajuk ini merepresentasikan sikap dan pandangan redaksional terhadap Kasus Mobil Rantis Brimob yang Menabrak Pengemudi Ojol, Affan Kurniawan Hingga Tewas.