search

Daerah

IP Leather GoodsUMKM Samarinda Ide Memulai Bisnis

IP Leather Goods, UMKM Samarinda yang Menyediakan Produk Fashion Berbahan Kulit Sapi

Penulis: Jeri Rahmadani
Jumat, 18 Juni 2021
IP Leather Goods, UMKM Samarinda yang Menyediakan Produk Fashion Berbahan Kulit Sapi
Proses pengerjaan hasil kerajinan tangan IP Leather Goods. (Jeri Rahmadani/Presisi.co)

Samarinda, Presisi.co – Hasil kerajinan dari kulit sapi untuk kebutuhan fashion sudah lama hadir di Samarinda. Salah satunya dikembangkan oleh usaha mikro kecil menengah (UMKM) Samarinda, Imperfect (IP) Leather Goods. Kulit sapi sebagai bahan pokok kerajinan tersebut disulap IP Leather Goods menjadi dompet, ikat pinggang, pembalut korek, alas gelas, dan lainnya.

Salah satu pengerajin IP Leather Goods, Agung Nur Zaman menjelaskan, perintisan usaha ini dimulai sejak Januari 2019.

Pada tahun pertama, Zaman bersama Muhammad Zulkifli Nurdin mengawali dengan peralatan paling murah kala itu seharga Rp 500 ribu. Yakni pisau pengukir, lampu belajar, cetakan, dan alat lain yang menunjang hasil kerajinan. Keduanya menekuni bidang ini berawal dari hobi. Beberapa waktu lalu Dadang Suyono menambah kekuatan IP Leather Goods sebagai pengerajin. Mereka tertarik lebih dalam mengolah kerajinan dengan keahlian tangan ini.

Zaman mengaku, sebelum menggeluti usaha ini, ia merupakan seorang surveyor penyelaman inspeksi kapal di salah satu perusahaan di Balikpapan. Ia di-PHK pada awal 2021 karena pandemi mengganggu keuangan perusahaan. Sejak saat itu, Zaman lebih fokus membuat kerajinan di IP Leather Goods.

Metode penjualan dilakukan mulai dari kawan selingkaran atau dalam istilah komunikasi dikenal dari mulut ke mulut (mouth to mouth). "Awalnya kami membuat untuk dipakai sendiri. Kemudian banyak teman yang bertanya beli di mana?" ucapnya.

Zaman mengakui, segmentasi pasarnya saat ini masih dominan di Kaltim. Meski beberapa kali mengirim produknya ke Jakarta. "Ada juga yang dikirim ke Belanda. Salah satu teman yang pesan. Namun penjualan masih banyak dalam Kaltim," ucap sarjana manajemen kehutanan Universitas Mulawarman itu.

Dalam sebulan, omset pada 2019 sampai 2020 belum bisa dikatakan menggembirakan. Paling sedikit terjual dua dompet. "Paling tinggi dapat Rp 1 juta. Itu hitungan kotor," ungkapnya.

Namun, pada 2021 ini penjualan mulai merangkak naik mencapai Rp 4 juta per bulan. Mulai dipesan dari individu teman selingkaran, hingga dapat order dari perusahaan.

Dibeberkan Zaman, kulit sapi sebagai bahan pokok hasil kerajinan IP Leather Goods ini dipesan dari Magetan, Jawa Timur. Harga dompet kulit yang dijualnya sekitar Rp 400 ribu. Untuk dompet kecil sebagai tempat penyimpanan kartu dibanderol Rp 200 ribu. Ikat pinggang kulit harganya Rp 300 ribu. Sedangkan pembalut korek seharga Rp 25 ribu.

"Kerugian akibat dari bahan kulit yang terbuang jelas ada. Tapi kecil dan itu sudah konsekuensi bisnis," terang Zaman.

Zulkifli mengatakan, bertempat di Gang Baisah, Teluk Lerong Ulu, Sungai Kunjang, Samarinda. Waktu operasional IP Leather Goods dimulai pukul 19.00-24.00 Wita. Selain dompet kulit biasa, ada dompet kulit yang divariasikan dengan kain ulap doyo khas Kaltim yang merupakan warisan suku Dayak Benuaq di Kaltim.

Zulkifli menyebut, untuk satu dompet dengan konsep sederhana dikerjakan selama 6 jam. Sedangkan untuk dompet ulap doyo dikerjakan selama tiga hari berdasarkan jadwal kerja IP Leather Goods.

Besaran harga jual bergantung pada tingkat kesulitan pembuatan. Dirinya menjelaskan, untuk membuat dompet ulap doyo perlu dilem di setiap partisi. Kemudian dijahit satu per satu partisinya, lalu dirangkai kembali. "Hari ketiga mulai finishing. Rencananya produk kami akan seperti ini (dompet ulap doyo). Agar berkombinasi dengan budaya di sini. Jadi semakin menguatkan identitas. Ini benar-benar karya anak Kaltim," imbuhnya. (*)

Editor: Rizki