Skandal Daycare di Yogyakarta, 53 Balita Diduga Jadi Korban Kekerasan Pengasuh
Penulis: Novia Intan Nur Ramadhani
Kamis, 30 April 2026 | 142 views
Rilis kasus kekerasan di salah satu Daycare Yogyakarta. (Sumber: Polresta Yogyakarta)
Jakarta, Presisi.co – Suara tangis yang semestinya menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak justru berubah menjadi jeritan penuh rasa sakit. Terungkapnya dugaan kekerasan terhadap puluhan balita di sebuah daycare di Yogyakarta membuka realitas kelam di balik tempat penitipan anak, ruang yang selama ini dipercaya sebagai lingkungan aman bagi buah hati.
Kasus ini mencuat setelah aparat kepolisian melakukan penggerebekan di sebuah daycare di kawasan Umbulharjo. Dari hasil penyelidikan, terungkap bahwa 53 anak diduga mengalami kekerasan fisik dari total 103 anak yang terdaftar. Hingga kini, 13 orang telah ditetapkan sebagai tersangka, mulai dari pengasuh hingga pihak pengelola.
Pengungkapan pada 24 April 2026 tersebut memperlihatkan kondisi yang memprihatinkan. Sejumlah anak ditemukan dengan luka yang mengindikasikan adanya perlakuan kasar yang tidak terjadi sekali dua kali, melainkan berulang.
Tim Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Riski Adrian menyatakan, saat penggerebekan petugas menemukan sejumlah anak dalam keadaan terikat pada tangan maupun kaki. Beberapa korban menunjukkan luka lebam, memar, dan cedera lain yang konsisten dengan perlakuan tidak manusiawi.
“Kami menyaksikan langsung anak-anak diperlakukan dengan cara yang melanggar hak dasar mereka,” ujar Adrian. Dikutip dari Sekolapedia, Kamis (30/4/2026).
Fakta ini memperkuat dugaan bahwa kekerasan telah berlangsung dalam kurun waktu tertentu dan menjadi bagian dari pola pengasuhan yang menyimpang.
Kasus ini terkuak bermula dari kecurigaan para orang tua. Mereka mendapati anak-anak pulang dengan luka lebam serta perubahan perilaku yang tidak biasa. Awalnya luka tersebut dianggap akibat aktivitas bermain, namun kecurigaan semakin menguat setelah beredar bukti visual di media sosial yang menunjukkan dugaan kekerasan di dalam daycare.
Salah satu orang tua korban mengaku tidak menyangka luka yang terlihat sepele ternyata merupakan bagian dari perlakuan kasar yang terjadi secara sistematis.
Di lokasi, aparat juga menemukan indikasi pembatasan gerak pada beberapa anak yang dinilai tidak wajar. Tak hanya dampak fisik, kondisi mental anak-anak turut menjadi perhatian. Saat ini, para korban tengah menjalani pendampingan medis dan psikologis guna memulihkan trauma.
Di media sosial, berbagai kesaksian orang tua serta bukti visual memperkuat tuntutan agar para pelaku dijatuhi hukuman berat. Banyak pihak menilai, peristiwa ini tidak bisa dianggap sekadar kesalahan individu, melainkan mencerminkan lemahnya sistem pengawasan terhadap daycare.
Kritik juga mengarah pada regulasi yang dinilai belum mampu mengimbangi pesatnya pertumbuhan bisnis penitipan anak, terutama di kota-kota besar. Tingginya kebutuhan masyarakat tidak diiringi dengan standar operasional yang ketat, sehingga membuka celah terjadinya praktik pengasuhan yang tidak sesuai.
Sementara itu, proses hukum masih terus berjalan. Kepolisian tengah mendalami keterangan dari puluhan saksi, termasuk staf dan pihak terkait lainnya. Jumlah korban pun berpotensi bertambah seiring berjalannya investigasi. (*)