search

Siaran Pers

InflasiData BPSBadan Pusat StatistikSiaran PersBank Indonesia

Inflasi April 2026 Terkendali, Harga Pangan Jadi Penopang

Penulis: Alfito Desta Nurvianto
Kamis, 30 April 2026 | 100 views
Inflasi April 2026 Terkendali, Harga Pangan Jadi Penopang
Ilustrasi inflasi. (Sumber: Istimewa)

Jakarta, Presisi.co — Laju inflasi Indonesia pada April 2026 diperkirakan tetap terkendali di tengah meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat. Stabilnya harga pangan disebut menjadi faktor utama yang menahan tekanan inflasi, meskipun permintaan sempat meningkat selama periode Ramadan dan Idulfitri.

Berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik, inflasi tahunan pada Maret 2026 tercatat sebesar 3,48 persen (year-on-year). Angka tersebut masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan pemerintah bersama Bank Indonesia.

Sejumlah komoditas pangan strategis tercatat relatif stabil dan menjadi penopang utama terkendalinya inflasi. Komoditas seperti beras, cabai merah, telur ayam ras, serta daging ayam tidak mengalami lonjakan signifikan meski permintaan meningkat. Kondisi ini tidak terlepas dari terjaganya pasokan di berbagai daerah serta distribusi yang relatif lancar selama periode hari besar keagamaan. Selain itu, inflasi bulanan pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,41 persen (month-to-month), mencerminkan tekanan harga yang masih moderat.

Stabilitas harga pangan juga didorong oleh berbagai kebijakan pemerintah, seperti operasi pasar, subsidi transportasi distribusi, serta pengawasan harga di tingkat daerah. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dinilai efektif dalam menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Langkah-langkah tersebut menjadi kunci dalam mencegah lonjakan harga yang biasanya terjadi saat momentum konsumsi tinggi.

Bank Indonesia menilai kondisi inflasi nasional masih berada dalam jalur yang sesuai dengan target kebijakan moneter. “Inflasi tahun 2026 tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1%,” kata Bank Indonesia dalam rilis resminya. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa stabilitas harga masih terjaga di tengah tekanan global, termasuk kenaikan harga energi dunia dan ketidakpastian geopolitik.

Meski kondisi domestik relatif stabil, pemerintah dan Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko eksternal yang berpotensi mendorong inflasi. Beberapa faktor yang menjadi perhatian antara lain:
- kenaikan harga minyak dunia
- gangguan rantai pasok global
- fluktuasi nilai tukar rupiah

Tekanan dari sisi global tersebut berpotensi memengaruhi harga barang impor serta biaya produksi dalam negeri.

Prospek inflasi diperkirakan tetap terkendali selama sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia terus berjalan. Penguatan ketahanan pangan, distribusi yang efisien, serta kebijakan moneter yang adaptif menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas harga. Selain itu, peningkatan produksi dalam negeri juga diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap impor, sehingga tekanan inflasi dapat diminimalkan. (*)