Penulis: Akmal Fadhil
SAMARINDA, Presisi.co — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Timur mencatat pertumbuhan ekonomi daerah pada tahun 2025 mencapai 4,53 persen.
Meski lebih lambat dibanding tahun sebelumnya, perekonomian daerah dinilai masih menunjukkan tren positif.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur, Mas’ud Rifai, mengatakan data tersebut dirilis pada 5 Februari 2026 sebagai potret penuh kondisi ekonomi sepanjang 2025.
“Rilis ini termasuk cepat karena BPS sudah menghitung sekitar satu bulan setelah tahun 2025 berakhir. Ini penting agar indikator pembangunan tetap terbarui,” ujarnya.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Timur selama beberapa tahun terakhir cenderung fluktuatif.
Secara historis, pertumbuhan ekonomi daerah juga umumnya berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun pada 2023 dan 2024, pertumbuhan ekonomi Kaltim sempat meningkat cukup tinggi, terutama dipicu oleh booming sektor komoditas, khususnya pertambangan.
“Walaupun sekarang terjadi perlambatan, ekonomi Kaltim masih tumbuh dengan baik. Hanya saja tidak secepat tahun 2024,” kata Mas’ud Jumat 6 Maret 2026.
Mas’ud menjelaskan, terdapat pergeseran kontribusi lapangan usaha dalam struktur ekonomi Kaltim.
Pada 2022, sektor pertambangan sangat dominan dengan kontribusi hingga sekitar 53 persen terhadap perekonomian daerah.
Namun sektor tersebut hanya menyerap sekitar 8 persen tenaga kerja, sehingga manfaat ekonomi yang besar tidak sepenuhnya tersebar luas di masyarakat.
“Ekonomi yang besar dihasilkan oleh tenaga kerja yang relatif sedikit. Artinya dampaknya terhadap pemerataan kesejahteraan tidak terlalu luas,” jelasnya.
Ketika sektor pertambangan mengalami penurunan, hal itu secara otomatis mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi daerah karena selama ini menjadi sektor dominan.
Industri Pengolahan Menguat
Di tengah perlambatan sektor tambang, sektor industri pengolahan justru menunjukkan penguatan dan menjadi salah satu penopang ekonomi Kaltim.
Mas’ud menjelaskan, industri pengolahan memiliki keterkaitan ekonomi yang lebih luas karena membutuhkan bahan baku dari sektor hulu dan menyalurkan produk ke sektor hilir seperti perdagangan.
“Industri pengolahan memiliki keterkaitan ke belakang dan ke depan yang kuat sehingga memberikan dampak yang lebih luas dalam sistem perekonomian,” katanya.
Selain industri, sektor konstruksi juga mengalami peningkatan seiring sejumlah proyek strategis nasional di Kaltim, termasuk pembangunan kawasan industri dan infrastruktur.
Berdasarkan distribusi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), lima sektor utama masih mendominasi ekonomi Kaltim, yaitu:
• Pertambangan: 34 persen
• Industri pengolahan: 20 persen
• Konstruksi: 11,58 persen
• Pertanian: 9,8 persen
• Perdagangan: 7,62 persen
Kelima sektor tersebut secara keseluruhan menyumbang sekitar 83 persen terhadap perekonomian daerah.
Dari sisi pertumbuhan, industri pengolahan mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 12,68 persen, diikuti perdagangan 11,03 persen, dan pertanian 7,71 persen.
Sementara itu, sektor pertambangan mengalami pertumbuhan negatif akibat penurunan permintaan global terhadap batu bara.
Negara-negara pengimpor utama seperti China dan India disebut mengurangi volume impor karena kondisi ekonomi global yang tidak menentu.
“Ketika permintaan berkurang, otomatis produksi pertambangan juga menurun. Ini yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Kaltim,” kata Mas’ud.
Data BPS juga menunjukkan ketimpangan antara kontribusi sektor ekonomi terhadap PDRB dan penyerapan tenaga kerja.
Sektor pertambangan yang menyumbang 34 persen PDRB hanya menyerap 8,59 persen tenaga kerja.
Sementara sektor pertanian dengan kontribusi sekitar 9,58 persen justru menyerap 17,92 persen tenaga kerja.
Adapun sektor perdagangan yang menyumbang 7,62 persen PDRB menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan 19,05 persen.
Mas’ud menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan di sektor pertambangan tidak selalu berdampak besar, terutapa pada jumlah tenaga kerja karena sektor tersebut memang tidak padat karya.
“Penurunan di sektor pertambangan dampaknya ke tenaga kerja relatif lebih kecil dibanding sektor lain yang padat karya,” pungkasnya. (*)
Editor: Redaksi




