Penulis: Muhammad Riduan
SAMARINDA, Presisi.co — Penyelidikan terkait insiden kapal tongkang pengangkut batu bara yang diduga menyenggol Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) terus berlanjut. Kepolisian Resor Kota (Polresta) Samarinda kini tengah melakukan pemeriksaan intensif terhadap sejumlah saksi kunci, termasuk para nakhoda kapal yang terlibat.
Kapolresta Samarinda, Kombes Pol Hendri Umar, mengonfirmasi bahwa saat ini tim penyidik sedang menggali keterangan dari dua nakhoda kapal yang berada di lokasi saat kejadian viral tersebut berlangsung.
“Masih dalam tahap pemeriksaan saksi-saksi. Dua nakhoda sudah kita periksa karena memang ada dua kapal yang terlibat dalam rangkaian kejadian itu,” ungkap Kombes Pol Hendri Umar kepada Presisi.co, Sabtu, 28 Februari 2026.
Kombes Pol Hendri menjelaskan, berdasarkan temuan awal di lapangan, satu unit kapal tongkang sempat kehilangan kendali atau larut hingga posisinya melintang di sekitar area jembatan. Kapal penarik (tugboat) lainnya kemudian berupaya melakukan manuver untuk mengevakuasi tongkang agar tidak mengganggu alur pelayaran.
Namun, dalam proses tersebut, tongkang yang larut mengenai bagian fender atau pelindung pilar Jembatan Mahulu. Sebagai informasi, sebagian struktur pelindung tersebut memang berada di bawah permukaan air sehingga tidak terlihat secara kasat mata.
“Tongkang yang larut itu sempat melintang dan mengenai fender yang posisinya tidak terlihat di permukaan. Hal itu menyebabkan kapal terdorong hingga masuk ke bawah struktur jembatan,” jelasnya.
Guna memastikan tingkat dampak terhadap keamanan struktur jembatan, Polresta Samarinda terus menjalin koordinasi erat dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kalimantan Timur sebagai instansi yang berwenang atas pemeliharaan Jembatan Mahulu.
Pemeriksaan teknis ini sangat krusial untuk membedakan apakah insiden tersebut dikategorikan sebagai tabrakan keras yang merusak struktur pilar utama, atau hanya gesekan pada sistem perlindungan jembatan.
“Kami berkoordinasi dengan PUPR Kaltim guna memastikan apakah benar ada tabrakan di sana atau hanya larut kemudian menyenggol bagian pelindung. Hasil evaluasi teknis ini akan menjadi dasar kami untuk menentukan langkah penanganan hukum lebih lanjut,” pungkasnya.
Hingga saat ini, Jembatan Mahulu tetap beroperasi secara normal, namun pengawasan di sepanjang alur Sungai Mahakam kian diperketat guna mencegah terulangnya insiden serupa yang dapat membahayakan infrastruktur vital daerah. (*)
Editor: Redaksi




