search

Berita

Kemnaker RIKecerdasan BuatanAICris Kuntadi

AI Bantu Auditor Deteksi Risiko Lebih Cepat

Penulis: Siaran Pers
1 jam yang lalu | 0 views
AI Bantu Auditor Deteksi Risiko Lebih Cepat
Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Cris Kuntadi saat Seminar Nasional Internal Audit 2026 di Yogyakarta, Selasa (29/9/2026)

YOGYAKARTA, Presisi.co – Kecerdasan buatan (AI) dapat membantu auditor internal menyaring data dalam jumlah besar dan menemukan pola risiko lebih cepat, namun hasil analisisnya tetap harus divalidasi sebelum menjadi dasar kesimpulan audit.

Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) Cris Kuntadi menyampaikan hal tersebut dalam Seminar Nasional Internal Audit 2026 di Yogyakarta, Selasa (29/9/2026).

Menurut Cris, organisasi kini menghasilkan data dalam jumlah besar dari berbagai aktivitas, mulai dari pembayaran, pengadaan, aset, perjalanan dinas, layanan digital hingga administrasi.

Pemanfaatan AI dan analisis data memungkinkan auditor menyaring jutaan baris data untuk menemukan pola yang tidak biasa. Teknologi tersebut antara lain dapat membantu mengidentifikasi transaksi duplikat, nilai ekstrem, pola pembayaran berulang, hingga pola pengadaan yang perlu diperiksa lebih lanjut.

“AI mempercepat analisis, data memperkuat assurance, sedangkan governance memastikan teknologi tetap berada dalam koridor akuntabilitas,” kata Cris.

Meski demikian, Cris menegaskan sinyal yang dihasilkan AI tidak secara otomatis menunjukkan adanya kesalahan atau pelanggaran. Auditor tetap perlu memeriksa bukti, memahami konteks, serta mempertimbangkan kualitas data dan validitas model yang digunakan.

“AI memberikan sinyal risiko; auditor melakukan validasi, memeriksa bukti, memahami konteks, menggunakan professional judgment, dan mengambil kesimpulan. AI membantu kita menentukan di mana harus melihat, tetapi auditor yang menentukan apa maknanya,” ujarnya.

Menurut Cris, penggunaan AI juga perlu disertai penguatan kompetensi auditor, termasuk dalam metodologi audit, literasi dan analisis data, AI, keamanan siber, critical thinking, komunikasi, serta professional judgment.

“AI bukan semata-mata soal teknologi. Yang ingin kita lihat adalah bagaimana AI mengubah lingkungan organisasi, mengubah profil risiko, dan pada akhirnya menuntut perubahan pada peran, fungsi, serta kompetensi auditor internal,” ucapnya.

Cris menambahkan, perkembangan teknologi tidak menghilangkan nilai dasar profesi auditor dalam menjalankan fungsi pengawasan.

“Teknologi akan terus berubah. Metode audit akan terus berkembang. Tetapi integritas, objektivitas, kompetensi, skeptisisme profesional, dan akuntabilitas harus tetap menjadi pegangan kita,” pungkasnya. (*)