Kupas Peran Strategis Perempuan di Tengah Dinamika IKN, Soroti Kepemimpinan dan Gerakan Sipil
Penulis: Muhammad Riduan
Kamis, 23 April 2026 | 56 views
Foto bersama usai kegiatan FGD
Samarinda, Presisi.co - Peran strategis perempuan dalam menghadapi dinamika pembangunan Ibu Kota Nusantara menjadi sorotan utama dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Debat Terbuka yang digelar Forum Intelektual Muda bersama KOPRI PKC Kalimantan Timur, Selasa 21 April 2026 malam.
Mengusung tema “Kartini, Demokrasi, dan Demonstrasi: Membaca Ulang Peran Perempuan dan Gerakan Sipil di Tengah Dinamika Kalimantan Timur”, forum ini menegaskan bahwa perempuan kini tidak lagi berada di posisi marginal, melainkan menjadi aktor kunci dalam menentukan arah gerakan sipil dan kebijakan publik, khususnya di tengah transformasi besar yang terjadi di Kalimantan Timur sebagai wilayah penyangga IKN.
Co-Founder Forum Intelektual Muda, Sutisna, menilai bahwa meningkatnya ruang diskusi publik di Kalimantan Timur menjadi indikator positif tumbuhnya kesadaran intelektual masyarakat dalam merespons perubahan besar akibat hadirnya IKN.
“Dengan hadirnya IKN, Kalimantan Timur kini menjadi pusat perhatian. Maka, setiap dinamika yang muncul harus direspons dengan kajian yang matang dan perspektif yang luas,” ujarnya.
Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Bambang Widjayanto selaku Penasehat TAGUPP Kaltim menekankan bahwa gagasan emansipasi yang diwariskan R.A. Kartini tetap relevan hingga kini, terutama dalam memperkuat fondasi peradaban melalui literasi.
"Fondasi peradaban itu dibangun dari membaca dan menulis, dan terbukti pemikiran Kartini melintas zaman serta tetap relevan dengan kebutuhan kita hari ini," ucapnya dalam paparan.
Sementara itu, Peraktisi Hukum Rusdiono menyoroti bahwa peluang perempuan di Kalimantan Timur semakin terbuka, termasuk dalam ranah politik dan pemerintahan. Ia mendorong perempuan untuk berani mengambil peran strategis dan aktif dalam mengawal kebijakan publik.
Pandangan kritis juga disampaikan oleh Aktivis Perempuan Kaltim, Yovanda Noni yang menegaskan bahwa emansipasi perempuan masa kini harus dimaknai sebagai keberanian untuk memimpin dan mengisi ruang-ruang kekuasaan, bukan sekadar menuntut kesetaraan.
“Akses terhadap pendidikan dan kebebasan berpikir menjadi kunci agar perempuan bisa tampil sebagai motor perubahan, baik di tingkat lembaga maupun negara,” tegasnya.
Melalui forum ini, para peserta diajak untuk melihat bahwa dinamika pembangunan IKN tidak hanya berbicara soal infrastruktur, tetapi juga tentang bagaimana perempuan mengambil peran strategis sebagai penjaga nilai demokrasi dan penggerak utama dalam gerakan sipil di tengah perubahan zaman.(*)