Penulis: Muhammad Riduan
Samarinda, Presisi.co – Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 diwarnai khidmatnya ibadah umat Tionghoa di Kelenteng Thien Ie Kong, Jalan Yos Sudarso, Karang Mumus, Kecamatan Samarinda Ilir, Selasa 17 Februari 2026 siang.
Sejak pagi, umat berdatangan silih berganti. Mereka mengenakan pakaian bernuansa merah marun, hadir sendiri maupun bersama keluarga untuk melaksanakan sembahyang dan memanjatkan doa menyambut tahun yang baru.
Suasana di kelenteng tertua di Kota Tepian itu berlangsung tenang dan penuh kekhusyukan. Asap dupa mengepul, sementara umat secara bergantian memanjatkan harapan agar tahun 2026 membawa keberkahan serta kehidupan yang lebih baik.
Albert Wijaya berharap pergantian tahun ini menjadi momentum perbaikan.
“Semoga tahun 2026 ini dapat lebih baik dari tahun 2025,” ujarnya kepada Presisi.co.
Harapan serupa disampaikan Herman. Ia mendoakan kebahagiaan dan kemajuan bagi semua orang di tahun yang baru.
“Di tahun baru Imlek ini semoga semuanya berbahagia dan semakin baik ke depannya,” katanya.
Secara pribadi, ia juga berharap berbagai aspek kehidupan mengalami peningkatan, termasuk untuk Kota Samarinda.
“Semoga semua lebih baik dan lebih maju setiap tahunnya,” tambahnya.
Sementara itu, Agustin yang mengaku baru pertama kali merayakan Imlek di Samarinda—karena berasal dari Balikpapan—berharap tahun ini membawa kebahagiaan, kesehatan, dan kelancaran rezeki.
“Semoga kita diberi kebahagiaan, kesehatan, dimudahkan rezekinya,” tuturnya.
Ia juga menaruh harapan terhadap kondisi ketenagakerjaan di Indonesia.
“Semoga dimudahkan lapangan kerjanya,” ujarnya.
Di sisi lain, Yosef selaku Biokong Kelenteng Thien Ie Kong menjelaskan bahwa perayaan Imlek memiliki rangkaian tradisi tersendiri. Sebagian umat merayakan bersama keluarga di rumah, sebagian lainnya memilih beribadah di kelenteng.
“Kalau Imlek ini tahun baru Cina. Ada yang merayakan di rumah masing-masing, ada juga yang di kelenteng,” jelasnya.
Menurutnya, momen Imlek bukan hanya ibadah, tetapi juga ajang mempererat silaturahmi antar keluarga, kerabat, hingga rekan kerja. Rangkaian ibadah bersama biasanya dipimpin pemuka pada malam pergantian tahun, sementara hari-hari berikutnya umat melaksanakan sembahyang secara pribadi.
“Kalau ibadah umum ada ketuanya yang memimpin, seperti tadi malam. Setelah itu baru pribadi-pribadi sembahyang biasa. Hari ini sembahyang biasa,” pungkasnya.
Perayaan Imlek 2026 di Samarinda pun berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan, diiringi doa agar tahun yang baru membawa kedamaian, kemajuan, serta kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.




