Kaltim Satukan Dua Aset Pariwisata, Erau dan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat
Penulis: Akmal Fadhil
1 jam yang lalu | 0 views
Kepala Dispar Kaltim Muhammad Faisal. (Presisi.co/Akmal)
Samarinda, Presisi.co – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) mulai mendorong Erau dan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai dua kekuatan utama pariwisata daerah yang dipromosikan secara terpadu.
Erau yang dikenal sebagai warisan budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura diposisikan bukan lagi sekadar agenda wisata Kabupaten Kutai Kartanegara. Sementara Geopark Sangkulirang-Mangkalihat dipersiapkan untuk naik kelas dari destinasi berbasis alam dan konservasi menuju jaringan geopark dunia.
Upaya tersebut mengemuka dalam bincang pariwisata dan ekonomi kreatif bertajuk “Dua Warisan, Satu Pesona Kalimantan Timur” yang digelar Dinas Pariwisata (Dispar) Kaltim di Atrium Utama Big Mall Samarinda, Kamis (20/8/2026).
Kepala Dispar Kaltim Muhammad Faisal mengatakan, Erau memiliki potensi besar untuk menjadi ikon wisata bersama seluruh kabupaten dan kota di Kaltim. Karena itu, promosi Erau tidak seharusnya hanya dibebankan kepada pemerintah daerah di Kutai Kartanegara.
“Jangan eksklusif lagi berpikir Erau hanya milik Tenggarong. Erau sekarang milik Kaltim. Seluruh dinas pariwisata di kabupaten dan kota, seperti Samarinda dan Balikpapan, harus ikut mempromosikan Erau bersama-sama,” ujar Faisal.
Menurut Faisal, persoalan akses menjadi salah satu hal yang perlu dibenahi untuk memperluas kunjungan wisatawan ke Erau.
Dispar Kaltim tengah membangun konsep transportasi bersama Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA).
Konsep tersebut berupa penyediaan bus shuttle gratis pulang-pergi dari sejumlah hotel di Samarinda dan Balikpapan menuju lokasi pelaksanaan Erau di Kutai Kartanegara.
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah lanjutan untuk Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Kawasan tersebut saat ini tengah menjalani proses penilaian untuk penetapan status Geopark Nasional yang diperkirakan rampung pada Oktober 2026.
Jika status nasional berhasil diperoleh, Kaltim akan mendorong Sangkulirang-Mangkalihat masuk dalam jaringan UNESCO Global Geopark.
“Bocoran dari tim penilai, nilainya tidak kaleng-kaleng dan sudah kelas dunia. Kalau sudah ditetapkan nasional, posisi kita semakin kuat untuk menjaga dan mempromosikannya ke UNESCO,” kata Faisal.
Ia menambahkan, Dispar Kaltim juga tengah menyiapkan familiarization trip atau fam trip untuk memperkenalkan langsung potensi kawasan tersebut kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengembangan pariwisata.
Dari sisi budaya, Pangeran Notonegoro Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Muhammad Heriansyah mengatakan, Erau memiliki nilai yang lebih luas daripada sekadar rangkaian ritual adat.
Tahun ini, Erau masuk dalam daftar 110 agenda pariwisata terbaik Indonesia melalui Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Erau tidak hanya mengajarkan tentang kelestarian budaya, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi, edukasi, serta menanamkan nilai-nilai luhur dari para leluhur kepada generasi muda,” ujar Heriansyah.
Untuk memperluas gaung acara, Kesultanan telah meluncurkan video promosi resmi yang disebarkan ke 10 kabupaten dan kota di Kaltim. Promosi juga diperluas melalui jejaring kerajaan dan kesultanan yang tergabung dalam Forum Kerajaan Nusantara.
Meski demikian, sejumlah prosesi sakral tetap dijalankan sesuai pakem adat. Ritual Belimbur hingga Larut Naga ke Kutai Lama tidak mengalami perubahan.
Kemeriahan Erau diperluas melalui pentas seni di depan Kedaton serta berbagai perlombaan olahraga tradisional, seperti dayung, gasing, belogo, dan asen naga.
Sementara itu, Manajer Senior Program Terestrial Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) Kaltim Niel Makinuddin menyoroti keunikan Sangkulirang-Mangkalihat yang menurutnya tidak hanya terletak pada bentang karstnya, tetapi juga pada keterhubungan ekosistem dari daratan hingga laut.
Konsep tersebut dikenal sebagai from ridges to reef, atau bentang alam yang tersambung dari kawasan pegunungan hingga terumbu karang.
Menurut Niel, karakter itu menjadi pembeda Sangkulirang-Mangkalihat dengan sejumlah kawasan karst lain di Indonesia. Gunung Sewu dan Maros-Pangkep, misalnya, lebih banyak berada di wilayah daratan, sedangkan Raja Ampat didominasi gugusan kepulauan.
Sangkulirang-Mangkalihat memiliki rangkaian ekosistem yang mencakup karst hulu, karst pedalaman, karst pesisir, hingga 34 pulau karst di kawasan Maratua.
Potensi tersebut tidak hanya berkaitan dengan pariwisata. Ekosistem karst juga memiliki fungsi penting sebagai penyimpan dan penyalur air bagi kawasan pesisir Kaltim.
Niel menjelaskan, kawasan pesisir dari Berau hingga Kutai Timur memiliki karakter iklim yang relatif kering. Dalam kondisi tersebut, jaringan lorong karst berperan sebagai jalur alami yang mengalirkan air dari kawasan hulu menuju wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
“Pulau kecil secara ilmiah biasanya sulit air bersih. Namun wilayah pesisir kita diuntungkan oleh ekosistem karst yang bertindak seperti pipa alami buatan Tuhan dari hulu,” kata Niel.
Karena itu, pengembangan Sangkulirang-Mangkalihat sebagai destinasi wisata tidak dapat dilepaskan dari agenda konservasi. Kerusakan ekosistem karst, kata dia, bukan hanya mengancam daya tarik wisata, tetapi juga dapat berdampak langsung terhadap ketersediaan air bersih masyarakat pesisir.
“Jika ekosistem karst ini rusak, ancaman utamanya adalah krisis air bersih bagi masyarakat pesisir,” pungkasnya. (*)