Penulis: Muhammad Riduan
SAMARINDA, Presisi.co — Tradisi ziarah kubur menjelang bulan suci Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para pedagang musiman di Kota Samarinda. Salah satunya adalah Anisa (21), penjual bunga tabur di kawasan Kuburan Muslimin, Jalan Abul Hasan, yang berhasil mengantongi omzet hingga Rp5 juta dalam hitungan hari.
Gadis muda ini telah bersiaga di lapaknya sejak pukul 06.00 WITA hingga petang hari. Mengandalkan momentum tahunan ini, ia menawarkan berbagai jenis bunga rampai dan bunga renteng bagi para peziarah yang datang mendoakan sanak keluarga.
"Empat hari menjelang Ramadan ini, kalau digabung (pendapatan) bisa sampai Rp5 juta. Tapi itu angka kotor, belum dipotong modal bahan baku, transportasi, hingga plastik," ungkap Anisa saat ditemui Presisi.co, Selasa, 17 Februari 2026.
Anisa mematok harga dagangannya dengan cukup kompetitif. Untuk satu bungkus bunga rampai, ia menjualnya seharga Rp5 ribu. Sementara untuk jenis bunga renteng atau kelopak bunga murni, harganya berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp35 ribu.
Menurutnya, fluktuasi harga sangat bergantung pada kemudahan mendapatkan bahan baku dari pengepul.
"Kalau bahannya susah didapat, biasanya harganya ikut naik sedikit," imbuhnya.
Untuk menjaga kualitas dagangannya, Anisa memesan pasokan bunga segar langsung dari wilayah Jalur Dua, Tenggarong. Sementara untuk aroma khas daun pandan, ia merajangnya sendiri di lokasi jualan guna memastikan kesegaran aroma bagi pembeli.
Meski angka Rp5 juta terdengar fantastis bagi pedagang kaki lima, Anisa mengaku ada penurunan pendapatan sekitar 20 hingga 30 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Ia menduga, perubahan arus lalu lintas di Jalan Abul Hasan menjadi faktor utama.
"Pendapatan agak menurun, mungkin karena sekarang sudah diberlakukan sistem satu jalur di sini. Akses pembeli jadi berbeda dibanding tahun sebelumnya," kata Anisa.
Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Anisa memprediksi puncak kepadatan peziarah akan terjadi tepat sehari sebelum puasa dimulai (H-1). Pada momen tersebut, area pemakaman biasanya akan disesaki warga sejak pagi buta.
Di tengah kesibukannya mengejar rezeki Ramadan, Anisa tetap menyelipkan rasa syukur. Ia berharap tradisi ini terus terjaga dan memberikan dampak ekonomi bagi warga sekitar.
“Harapannya sehat, panjang umur, dan semoga ke depan bisa lebih ramai lagi dari tahun kemarin. Pokoknya yang baik-baik saja,” pungkasnya dengan senyum. (*)
Editor: Redaksi




