search

Berita

Dewan Pertimbangan Presiden kabinet Prabowo Gibran kritik radikal Rocky GerungPrabowo Subianto Wantimpres Tokoh

Masuk Wantimpres Prabowo, Rocky Gerung Tegaskan Tetap Bawa Kritik Radikal

Penulis: Redaksi Presisi
9 jam yang lalu | 0 views
Masuk Wantimpres Prabowo, Rocky Gerung Tegaskan Tetap Bawa Kritik Radikal
Rocky Gerung, Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). (Sumber: Istimewa)

JAKARTA, PRESISI.CO— Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Rocky Gerung, menegaskan bahwa keputusannya untuk bergabung dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak akan menghilangkan sikap kritis yang selama ini menjadi identitasnya. Rocky memastikan bakal tetap membawa tradisi kebebasan intelektual untuk menguji arah kebijakan pemerintah dari dalam kekuasaan.

Rocky menyadari munculnya kekecewaan publik atas langkahnya merapat ke lingkaran Istana. Namun, akademisi dan pengamat politik ini menilai keberadaan kritik tidak ditentukan oleh posisi jabatan seseorang, melainkan pada konsistensi dalam mempertahankan prinsip dasar.

“Kritis atau tidak kritis bukan soal sejauh apa. Kritik itu bukan ordinal, tetapi nominal. Artinya, bukan kritik 10 persen atau 20 persen karena ada kompromi di dalam kabinet. Kritik itu ya kritik atau tidak kritik,” kata Rocky melalui Viva.co.id pada Senin (19/10/2026).

Rocky menjelaskan bahwa dirinya membawa cara berpikir yang tumbuh dari komunitas kampus. Jika sebelumnya ia membongkar gagasan dari luar kekuasaan, kini ia ingin membawa perspektif akademis tersebut untuk menguji kebijakan langsung dari dalam sistem. Ia juga menegaskan bahwa Presiden Prabowo memanggilnya sebagai representasi komunitas pemikir akademik, bukan perwakilan partai politik atau kelompok kepentingan tertentu.

"Filsuf akademisi itu konstan, tidak akan berubah," tegas Rocky.

Analogi Kedokteran dan Misi Mengincar Koruptor

Guna menjelaskan alasannya bergabung di pemerintahan, Rocky mengibaratkan kritik sebagai peralatan dari luar yang digunakan untuk membongkar fondasi kekuasaan dari dalam. Menurutnya, perangkat internal pemerintahan belum tentu memadai untuk mengoreksi struktur yang bermasalah.

“Peralatan raja tidak mungkin dipakai untuk membongkar istana raja. Maka, harus menggunakan peralatan dari luar. Itulah kritik radikal,” ujarnya.

Menggunakan analogi ilmu kedokteran, Rocky menyinggung fenomena apoptosis atau kondisi di mana sel rusak secara alami mematikan dirinya agar tidak merusak sel-sel sehat lainnya. Namun, ia menilai saat ini banyak pelaku korupsi yang bertindak seperti sel kanker (metastasis), merusak birokrasi dan regulasi demi berlindung dari jerat hukum.

“Alasan saya masuk kabinet buat mengejar sesuatu yang seharusnya sudah punah, yaitu koruptor,” pungkas Rocky. (*)