search

Lifestyle

Slow LivingTren HidupKesehatan MentalAnak MudaPopuler

Slow Living Makin Populer di Kalangan Anak Muda, Jadi Cara Baru Jaga Kesehatan Mental?

Penulis: Alfito Desta Nurvianto
Kamis, 09 April 2026 | 109 views
Slow Living Makin Populer di Kalangan Anak Muda, Jadi Cara Baru Jaga Kesehatan Mental?
Ilustrasi. (Sumber: Istimewa)

Jakarta, Presisi.co - Gaya hidup slow living semakin populer di kalangan anak muda Indonesia sebagai respons terhadap tekanan hidup modern dan meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.

Konsep slow living menekankan kehidupan yang lebih sadar, tidak terburu-buru, serta fokus pada kualitas aktivitas sehari-hari dibanding produktivitas berlebihan. Fenomena ini dinilai menjadi alternatif bagi generasi muda dalam menghadapi ritme kehidupan yang semakin cepat di era digital.

Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Surabaya, Radius Setiyawan, mengatakan tren tersebut muncul sebagai respons terhadap tekanan hidup modern dan budaya serba cepat.

“Slow living lahir sebagai respons terhadap kecepatan hidup modern. Banyak orang menghadapi burnout karena target yang sangat tinggi,” kata Radius dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, dikutip dari SuaraSurabaya.net

Dipicu Tekanan Mental Generasi Muda

Data menunjukkan isu kesehatan mental menjadi salah satu faktor utama munculnya tren ini. Survei Jakpat yang dirilis melalui GoodStats mencatat sekitar 45 persen Gen Z memilih menarik diri dari lingkungan sosial saat kondisi mental tidak stabil.

Selain itu, hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, mulai dari kecemasan hingga depresi.

Kondisi tersebut mendorong generasi muda mencari pola hidup yang lebih seimbang antara pekerjaan, relasi sosial, dan waktu pribadi.

Fokus pada Keseimbangan Hidup

Laporan Indonesia Millennial and Gen Z Report dari IDN Research Institute juga menunjukkan keseimbangan hidup (work-life balance) menjadi salah satu prioritas utama generasi muda Indonesia selain karier dan hubungan sosial. 

Dalam praktiknya, slow living sering diwujudkan melalui aktivitas sederhana seperti:
• membatasi penggunaan media sosial,
• melakukan digital detox,
• journaling dan meditasi,
• menikmati aktivitas harian tanpa tekanan produktivitas berlebihan.

Konsep ini tidak berarti hidup lambat sepenuhnya, melainkan menjalani aktivitas dengan lebih sadar dan bermakna.

Bukan Sekadar Tren Media Sosial

Secara global, slow living merupakan bagian dari gerakan gaya hidup yang mendorong masyarakat menikmati hidup dengan ritme lebih tenang dan berfokus pada pengalaman saat ini dibanding kecepatan dan konsumsi berlebihan. 

Pengamat gaya hidup menilai tren ini berpotensi bertahan lama karena sejalan dengan perubahan pola pikir generasi muda yang semakin peduli terhadap kesejahteraan mental dan kualitas hidup. (*)

Editor: Redaksi