search

Berita

Jembatan MahuluTongkang Batu BaraDinas PUPR-Pera KaltimAM Fitra Firnanda

Jembatan Mahulu Bisa Ambruk Jika Ditabrak Tongkang Terus

Penulis: Akmal Fadhil
1 hari yang lalu | 305 views
Jembatan Mahulu Bisa Ambruk Jika Ditabrak Tongkang Terus
Jembatan Mahulu saat ditabrak tongkang dengan muatan batu bara. (Sumber: Istimewa)

Samarinda, Presisi.co – Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kalimantan Timur, AM Fitra Firnanda, mengingatkan risiko serius terhadap keselamatan Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu).

Fitra menyebutkan, meski secara visual kondisi jembatan saat ini masih dinyatakan aman untuk lalu lintas kendaraan di atasnya, ketiadaan fender atau pelindung pilar menjadi ancaman utama apabila terjadi benturan ulang.

“Untuk lalu lintas di atas jembatan masih aman secara visual, tidak ada pergeseran maupun deformasi. Tapi yang menjadi perhatian besar adalah tidak adanya fender. Kalau tertabrak lagi, satu kali tabrakan secara lqngsung saja berpotensi menyebabkan keruntuhan,” ujarnya Senin, 5 Januari 2026.

Ia menjelaskan, struktur jembatan pada dasarnya dirancang untuk menahan beban vertikal dari kendaraan, bukan beban horizontal akibat tumbukan kapal berukuran besar.

Karena itu, benturan langsung di titik berat pilar dapat menimbulkan pergeseran signifikan.

“Jembatan tidak didesain menahan beban horizontal sebesar itu. Kalau ponton menabrak lurus mengikuti arus dan tepat di pusat pilar, risikonya sangat besar, bisa langsung bergeser,” jelas Fitra.

Menurutnya, karakter tabrakan kapal juga sangat menentukan dampak kerusakan.

Benturan langsung tanpa penghalang, seperti fender, jauh lebih berbahaya dibandingkan tabrakan yang sebelumnya tertahan atau terseret terlebih dahulu.

“Satu kali tabrakan yang tepat sasaran sudah cukup berbahaya. Ini yang kami khawatirkan,” tegasnya.

Fitra menambahkan, hingga saat ini uji beban dan pemeriksaan struktural mendalam belum dilakukan.

Penilaian kondisi jembatan masih bersifat visual dan geometrik, sehingga diperlukan kehati-hatian ekstra dalam pengelolaan pelayaran di bawah jembatan.

Terkait pembatasan lalu lintas kapal di bawah Jembatan Mahulu, Fitra menyebut kewenangan tersebut berada di tangan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP).

Meski demikian, pihaknya menilai kondisi saat ini belum ideal untuk dilalui kapal besar.

“Kalau dari sisi teknis, sebenarnya belum layak dilalui karena tidak ada fender. Tapi pertimbangannya banyak, sehingga pengamanan harus ditingkatkan,” katanya.

Sebagai langkah antisipasi sementara, ia mendorong pengetatan pengawalan pelayaran, penambahan kapal escort dan pandu. 

Hal itu guna meningkatkan kewaspadaan pengguna alur Sungai Mahakam.

“Pengamanan harus ekstra sampai ada solusi permanen. Kalau tidak, risikonya terlalu besar,” pungkas Fitra. (*)

Editor: Redaksi