Cek Fakta

Enam Fakta Dibalik Meninggalnya Muhammad Mursi

Penulis: Presisi 1

Muhammad Mursi

Presisi.co – Muhammad Mursi, Mantan Presiden Mesir yang terpilih secara demokratis untuk pertama kalinya pada 2012, dikabarkan meninggal akibat serangan jantung oleh Pemerintah Mesir, Senin (17/6)

Kematian tokoh sentral Ikhwanul Muslimin Mesir yang dilengserkan oleh Menterinya sendiri ini, menyisahkan beragam kontroversi dan spekulasi, hingga jadi sorotan dunia.

Berikut ini, presisi sajikan enam Fakta dibalik wafatnya Muhammad Mursi :

1.    Presiden Pertama Mesir yang Terpilih Secara Demokratis

Sebagai tokoh sentral gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir, Muhammad Mursi dianggap memiliki peranan penting dalam runtuhnya pemerintahan Husni Mubarak. Tahun 2012, Muhammad Mursi terpilih secara demokratik sebagai Presiden Mesir dengan peroleh suara 52 persen, mengalahkan pesaingnya Jenderal Ahmed Safiq.

2.    Dilengserkan Oleh Menteri Sendiri.

Meski terpilih sebagai Presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis, namun kehadiran Mursi dianggap tidak cukup untuk menyudahi konfik kepentingan di Pemerintahan Mesir. Mulai dari gagalnya pembentukan konstitusi, pembubaran parlemen, hingga pertentangan dari kelompok-kelompok oposisi.

Mursi didepak dari kursi kepresidenan oleh menterinya sendiri, yakni Abdul Fattah al-Sisi, petinggi militer yang dipercaya Mursi menduduki jabatan sebagai Menteri Pertahanan Mesir.

Sisi berhasil menggulingkan pemerintahan Mursi, tepatnya 3 Juli 2013 dan menjebloskan Mursi ke penjara dengan beragam tuduhan, mulai dari kasus terorisme hingga pengkhianatan.

3.    Prediksi Detention Review Panal (DRP) Inggris.

Detention Review Panel (DRP) Inggris, pada maret tahun lalu menyebutkan Mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi terancam menghadapi kematian dini. DRP menyebutkan, buruknya perawatan kesehatan yang diperoleh Mursi selama ditahanan menyababkan Mursi tesiksa terhadap penyakit diabetes dan liver yang dideritanya.

4.  Penuh Kontroversi, PBB Diminta Turun Tangan

Kabar meninggalnya tokoh sentral gerakan Ikhwanul Muslimin Mesir itu, turut disoroti oleh Kelompok Hak Asasi Manusia International atau Human Rights Watch (HRW), yang menyerukan agar Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) melakukan penyelidikan Independen terhadap kematian Mursi.

Menurut Direktur Timur Tengah dan Afrika utara pada HRW, Sarah Leah Witson, meninggalnya Mursi erat kaitannya dengan penganiayaan yang dilakukan oleh Pemerintah Mesir kepada Mursi.

"Paling tidak, pemerintah Mesir melakukan pelanggaran berat terhadap Mursi dengan menyangkal hak tahanan yang memenuhi standar minimum,” ungkap Sarah seperti dilansir dari Anadolu Agency, Selasa (18/6)

Baca Juga : Kotroversi Kematian Mursi

5.    Jadi Sorotan Dunia, Pemerintah Mesir Hadapi Tekanan

Kematian Muhammad Mursi yang dinilai kontroversi menyebabkan Pemerintah Mesir harus menghadapi tekanan, baik dari keluarga hingga kelompok-kelompok aktivis Mesir dan dunia.

Tekanan terhadap Pemerintah Mesir pun datang dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menyalahkan “tiran” mesir atas kematian sekutu dekatnya tersebut dan menggambarkan Mursi sebagai seorang “martir”.

Sementara itu, sekutu lain dari Muhammad Mursi, Emir Qatar Sheikh Tamim Bin Hamad Al Thani pun ikut menyampaikan kesedihan mendalamnya terhadap kematian Mursi.

6.    Jasad Mursi di Shalatkan di Mesjid Penjara

Kepergian Mursi yang dianggap tragis, belum berakhir hingga gelar pemakamannya, yang dilaksanakan diluar dari kebiasaan adat Mesir. Meski berstatus sebagai mantan presiden, jasad Mursi dishalatkan di Masjid Penjara Tora, sebelum di makamkan di Kota Nasr, pagi hari dihari yang sama ketika meninggal.

Hal itu, bertolak belakang pula dengan keinginan keluarga Mursi yang menginginkan agar Pemakaman Mursi dapat dilangsungkan di kampungan halamannya di Provinsi Sharqia.

Pemakaman Mursi pun berlangsung ketat, hanya keluarga terdekat saja yang boleh hadir, sementara wartawan dilarang mendekat, hal ini berbanding terbalik terhadap perlakuan Pemerintah Mesir saat pemakaman Mantan Presiden Husni Mubarak.

mesirfaktamuhammad-mursiinternasionalcek-faktapbbhuman-rights-watch

Baca Juga